Minggu, 25 April 2010

Ambil Resiko

Saat anda mengambil resiko, ada kemungkinan sangat nyata akan terjadinya kegagalan.  Tetapi bila anda tidak mengambil resiko, anda sudah pasti gagal.
Memang, beberapa resiko tidak layak ditempuh, TAPI menghindari semua resiko, sama saja dengan menghindari hidup.  Bangun pagi mengandung resiko.  Pergi ke pasar mengandung resiko.  Berkenalan mengandung resiko.  Namun semua resiko ini masih cukup bernilai untuk ditempuh, karena resiko-resiko demikian mengikutkan imbalan yang berharga.

Mungkin anda akan mengambil suatu resiko, dan gagal.  Tapi itu bukan alasan untuk berhenti mengambil resiko.  Belajarlah dari pengalaman dan maju terus.  Waktu, kesempatan, dan sumber daya anda akan membusuk serta terbuang percuma bila anda digiring terus pada rasa takut kehilangan waktu dan kesempatan.  Resiko terbesar adalah saat anda tidak berani ambil resiko.
Gunakan apa yang anda punya.  Jangan biarkan takut akan resiko menjadi penyebab terbesar kegagalan anda.  Hitung kembali. Ambil resiko, dan raihlah imbalan yang tersimpan di dalamnya.

Mengapa Orang Pintar Bisa Gagal?

Alangkah besar apa yang bisa diajarkan oleh kegagalan hidup tentang diri kita! Mereka yang memetik pelajaran dari kesalahannya bisa kembali dengan keadaan yang lebih kuat daripada sebelumnya....Anda mungkin pernah gagal dalam karier anda. Satu-satunya cara untuk menghindari kegagalan adalah tidak pernah berusaha mengejar sukses; tetap tinggal di tempat anda sekarang. Sebenarnya anda bisa memetik pelajaran dari kegagalan, memikirkan apa yang tidak beres dan memperbaikinya.

Anda mempunyai kekuatan untuk berubah. Bahkan seorang yang sukses seperti Samuel Beckett, penulis lakon sandiwara paling terkemuka di abad kedua puluh ini, pernah menulis bahwa dia merasa tidak asing lagi dengan kegagalan, “setelah bernafas dalam-dalam dengan udaranya yang menggairahkan hidup.”

Penelitian cermat terhadap kekalahan sangat penting. Anda harus menghadapi kegagalan untuk menghindari kemungkinan mengulanginya. Berdasarkan wawancara dengan hampir 200 orang yang telah berhasil mengatasi kegagalan karier yang besar, berikut ada enam alasan paling umum untuk kegagalan. Siapa pun anda.
Mungkin anda menemukan diri anda dalam daftar ini.

1 . Kurangnya Ketrampilan Sosial.

Kebanyakan orang yang kurang memiliki ketrampilan sosial beralasan bahwa “politik kantor”-lah penyebab kegagalan mereka. Namun, politik kantor tak lebih dari interaksi normal antara para karyawan. Bila anda mendapat kesulitan dengan “politik kantor”, mungkin anda benar-benar mempunyai kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Kebanyakan karier melibatkan orang lain. Seberapa pun hebatnya intelegensi akademis anda, tetaplah anda perlu memiliki intelegensi sosial, (misal, kemampuan mendengarkan, peka terhadap perasaan orang lain, memberi dan menerima kritik dengan baik). Orang yang memiliki intelegensi sosial tinggi mengakui kesalahan mereka, berjalan terus dan tahu bagaimana membina dukungan tim. Intelegensi sosial adalah ketrampilan yang bisa diperoleh dengan banyak berlatih.

2. Tidak Cocok.

Mungkin anda sama sekali tidak gagal, hanya menderita suatu kasus ketidakcocokan. Sukses memerlukan kecocokan antara kemampuan, kepentingan, kepribadian, daya dan nilai-nilai dalam pekerjaan anda. Bila anda merasa tidak cocok, maka jangan ragu untuk meninjau perilaku pekerjaan dan menyesuaikan atau mengubah pekerjaannya. Bagi beberapa orang, pokok persoalannya adalah seberapa besar resiko yang berani diambil.

3. Tidak Adanya Komitmen.

Sesuatu yang dilakukan setengah-setengah meningkatkan kemungkinan gagal. Khayalan ketakutan akan kegagalan yang menimpa orang yang tidak punya komitmen dapat menyebabkan ia menghindari kegagalan dengan tidak melibatkan diri secara emosional. Selain itu, kurangnya penghargaan pada diri sendiri  merupakan penyebab dasar kegagalan. Untuk bisa ambil bagian dalam sukses, anda harus yakin bahwa anda bisa melakukannya.

4. Fokus yang Terlalu Tersebar.

Beberapa orang melakukan terlalu banyak kegiatan sehingga akhirnya tidak melakukan satu pun secara baik. Fokuskan kembali diri anda pada apa yang paling baik dilakukan. Sadarilah keterbatasan anda, tetapkan prioritas, dan susun organisasi usaha anda, merupakan hal-hal pokok untuk mencapai suskes.

5. Rintangan Tersembunyi.

Kadang-kadang banyak rintangan tersembunyi yang sulit diperangi. Misal, umur, diskriminasi jenis kelamin dan ras. Anda harus meninjau kembali, berdasarkan analisa yang benar mengenai situasi, untuk merebut kembali kontrol atas kehidupan dan masa depan anda.

6. Kemalangan.

Kadang-kadang suatu peristiwa terjadi dan anda tidak bisa menghindarinya. Apa yang dapat anda lakukan? Pertama, jangan menyalahkan diri sendiri kalau peristiwa itu terjadi. Kedua, ingat bahwa anda selalu memiliki pilihan, walaupun pilihan itu tidak terlihat jelas. Kesempatan datang silih berganti, dan arah yang anda tetapkan mungkin bisa berubah lagi. Tetapi kalau anda bisa berpikir jernih mengenai kegagalan, kalau anda meyadari bahwa anda adalah seorang yang selalu punya pilihan, maka anda akan bisa mengatasi sebuah pelajaran yang berharga. Mengapa orang yang pintar pun bisa gagal? Mereka bisa saja gagal karena banyak alasan. Tetapi kegagalan bukanlah yang menjadi pokok persoalan. Orang yang paling baik punbbisa mengalami kegagalanb,. Yang penting adalah bagaimaan kita ememtik pelajaran dari kegagalan kita. Apa ciri khas yang menonjol dari orang yang ebnar-benar pintar? Mereka memetik pelajaran. 


(diadaptasi dari “Mengapa Orang Pintar Bisa Gagal”, Carole Hyatt dan Linda Gottlieb)

Dunia memberi apa Yang kita Fokuskan

Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit, dan tindakan anda pun jadi kerdil
Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga....


Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiaran kita.
Padahal dunia tidak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri
Maka bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. dan dunia pun menampakkan realitanya yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita.

Yakinlah Anda Bisa

Ingatlah ketika Anda masih kecil, dan mencoba belajar berjalan.  saya yakin anda mengalami seperti ini: Pertama Anda harus belajar untuk berdiri: sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu kembali berdiri. Anda kadang tertawa serta tersenyum, tapi dilain waktu anda menangis dan meringis karena sakit. Entah, seperti ada tekad dan keyakinan dalam diri Anda bahwa Anda akan berhasil, apa pun dan bagaimanapun. Anda punya motivasi dalam diri Anda....

Setelah banyak berlatih akhirnya Anda mengerti bagaimana keseimbangan diri Anda, sebuah persyaratan untuk kejenjang berikutnya. Anda menikmatinya dan seolah-olah punya kekuatan baru, punya motivasi baru. Anda akan berdiri dimana Anda suka – di tempat Anda, di sofa, di pangkuan ibu Anda, Bapak anda, atau pun seseorang. Itu adalah waktu yang menggembirakan – Anda melakukannya! Anda dapat mengontrol diri Anda. Anda tersenyum dan tertawa lucu, puas akan keberhasilan Anda.  Sekarang – langkah berikutnya – berjalan. Anda melihat orang lain melakukannya – ini keliatannya tidak terlalu sulit – hanya memindahkan kaki Anda saat Anda berdiri, kan?
Salah – ternyata lebih kompleks daripada yang Anda bayangkan. Anda berurusan dengan rasa frustasi. Tapi Anda terus mencoba, mencoba lagi dan mencoba lagi dan lagi sampai Anda tahu bagaimana berjalan. Anda selalu ingin kedua tangan anda diberi pegangan saat berjalan. Jika orang melihat Anda berjalan, mereka akan bertepuk tangan, mereka tertawa, mereka akan memberi semangat, “Ya Tuhan, lihatlah apa yang dia lakukan”. “Oh anakku sudah bisa berdiri”. “pandainya anakku, pintarnya anakku” dan lain-lain. Dorongan ini memicu Anda; dorongan itu menambah rasa percaya diri Anda.

Dorongan itu memotivasi Anda namun meski begitu, Andapun mencoba berjalan saat tak ada yang melihat Anda, saat tak ada yang bersorak-sorai? Setiap peluang ada, Anda berlatih untuk berjalan.  Anda tidak bisa menunggu seseorang untuk memotivasi Anda untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Anda belajar bagaimana untuk memotivasi diri sendiri.
Jika kita bisa mengingat hal ini tentang diri kita di hari ini. 
Ingat bahwa kita bisa melakukan apapun yang kita pikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melewati proses, seperti ketika kita belajar berdiri, seperti ketika kita belajar berjalan. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk memotivasi kita, kita perlu memotivasi diri kita sendiri. Jika Anda sudah lupa bagaimana melakukan hal ini, atau merasa seperti beku, kaku dan gamang. Maka Anda membutuhkan motivasi, ambillah kembali perjalanan singkat dalam hidup Anda yang telah lewat – Lihatlah prestasi Anda, tidak peduli prestasi besar atau prestasi kecil – atau saat-saat dimana Anda bertemu dengan tantangan dan menemukan cara untuk berhasil.

Ulanglah keberhasilan itu saat ini, saat anda menghadapi permasalahan yang sedang anda hadapi. Fokus pada semua hal yang Anda pikir Anda tidak bisa lakukan, kemudian lakukanlah. Lihatlah buah hati anda. Mereka tidak pernah menyerah. Dan mereka yakin serta percaya terhadap anda, bahwa anda mampu dan bisa.  Mereka percaya di dalam semua kehidupan Anda!
 Sekarang Anda harus percaya pada diri Anda! Yakinkan pada hati Anda Bahwa Anda pasti bisa.
“Ingat, hari ini adalah hari terbaik dalam hidup Anda, milikilah masa depan yang indah, dengan membuat perubahan hari ini!

Kejarlah Mimpi

Sejenak mari kita berjalan mundur, kembali ke 6 tahun yang lalu.  Dari tahun 2004 sampai saat ini, berapa banyak kah peristiwa yang dapat tersimpan dan berkesan bagi Anda.  Berapa banyak kenangan yang tersimpan di album hati Anda?

Ok, kita tutup lembaran lama itu. Tidak baik berlama-lama dimasa lalu. Karena waktu geraknya selalu maju.
Sepuluh tahun dari sekarang. Apa yang akan anda ingat tentang HARI INI…? Apakah pakaian yang anda pakai, atau yang anda santap saat makan siang, atau yang anda tonton nanti malam? Mungkin tidak satupun dari itu.
Adakah sesuatu dari HARI INI yang akan anda ingat? ataukah semuanya hanya akan jadi rangkaian kabur deretan hari setelah satu dua minggu seperti deretan tahun-tahun yang lalu.
Pikirkan hal-hal yang dapat anda kerjakan SEKARANG, sehingga anda dapat memiliki kenangan akan HARI INI. Hal yang anda akan ingat dengan bangga karena anda telah mengerjakannya.

  • Ada orang yang dengan mereka anda bisa mencapai sesuatu.
  • Ada tujuan yang bisa anda rintis hari ini.
  • Ada masalah yang bisa anda selesaikan hari ini.
  • Ada kebaikan yang anda bisa berikan pada orang lain hari ini
  • Ada hal baru yang bisa anda pelajari hari ini.
  • Ada kesempatan yang dapat anda nikmati hari ini.
Apakah anda akan mengingat hari ini, dalam sepuluh tahun ke depan..? Mungkin tidak. Tetapi bayangkan betapa berartinya hidup anda, bila anda mencoba membuat setiap hari anda memiliki suatu kenangan.
Semoga sukses bersama saya dan Anda…. Amin

Ada Saatnya

Diam itu emas, tetapi ada saatnya diam tidak selalu emas
Jujur itu baik, tetapi ada saatnya jujur tidak selalu baik
Gagal itu terpuruk, tetapi ada saatnya gagal tidak selalu terpuruk
Cinta itu indah, tetapi ada saatnya cinta tidak selalu indah
Mengalah itu lemah, tetapi ada saatnya mengalah tidak selalu lemah
Mimpi itu khayalan, tetapi ada saatnya mimpi tidak selalu khayalan
Uang itu segalanya, tetapi ada saatnya uang tidak selalu segalanya
Dunia itu kejam, tetapi ada saatnya dunia tidak selalu kejam.....
Kaya itu keinginan, tetapi ada saatnya kaya tidak selalu keinginan

Pada waktu tertentu, segala sesuatu yang awalnya kita terka benar tidak selalu demikian. Ada saatnya dimana kita melakukan sesuatu atau menilai orang lain meleset dari “rumus”. Untuk itu, mari gunakan pemberian-Nya untuk mengenali waktu/situasi dan mengetahui sikap yang harus kita lakukan agar kita tidak terpatok pada “rumus” kehidupan yang sudah melekat di alam sadar kita atau bahkan alam bawah sadar kita.

Kamis, 22 April 2010

Mau Jadi entrepreneur

"Untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda tak perlu banyak teori. Baca saja buku yang satu ini. Sangat aplikatif dan inspiratif. Tulisannya pun renyah untuk dibaca." Itu adalah endorsment saya yang tercetak di buku "Rahasia Menjadi Entrepreneur Muda" karya Faif Yusuf.

Awalnya, saya bingung ketika ditodong untuk memberikan komentar atas buku ini. Apalagi, sudah banyak tokoh ternama yang "bersuara". Kemungkinan besar pendapat saya hanya berupa pengulangan bahkan mungkin peniruan.

Lagipula, ketika naskah ini disodorkan pada saya (saat itu masih berbentuk draft), sejujurnya saya belum membaca seluruh isinya. Ada kendala teknis yang sulit diungkapkan, yang menghalangi saya dalam membaca naskah ini.

Tapi selama ini saya sudah mengenal Pak Faif Yusuf sebagai seorang penulis yang sangat berbakat. Tulisan-tulisan dia sangat enak dibaca, inspiratif dan disukai oleh banyak orang. Bagi saya, itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan komentar yang bagus terhadap buku ini.

Ya, memang tak perlu banyak teori untuk menjadi seorang entrepreneur. Bahkan sebenarnya, Anda tak perlu membaca buku ini, jika itu hanya membuat pikiran Anda makin terbebani oleh teori-teori yang tidak perlu. Seperti kata Bob Sadino, bacaan-bacaan itu adalah "sampah" yang mengotori pikiran Anda, membuat Anda selalu ragu dan tak pernah TAKE ACTION untuk mulai berusaha.

"Pengalaman adalah guru yang terbaik," demikian ujar sebuah kata bijak. Tapi sebenarnya ada guru yang jauh lebih baik, yakni pengalaman orang lain :)

Dalam konteks inilah, buku "Rahasia Menjadi Entrepreneur Muda" perlu Anda baca. Di dalamnya, Anda akan menemukan sosok-sosok entrepreneur muda yang BERANI terjun ke dunia bisnis tanpa banyak teori. Mereka langsung TAKE ACTION, dan pengalamanlah yang akhirnya menempa mereka.

Aan Ade Wirama misalnya. Ia memulai bisnis di bidang IT tanpa punya mobil, laptop, atau komputer. Padahal bagi orang-orang IT, benda-benda seperti ini termasuk "perangkat wajib". Tapi dia yakin bahwa dia akan berhasil, dan keyakinan itu akhirnya terbukti.

Simak pula pengalaman Ari Bayat yang terjun ke bisnis mainan edukatif untuk anak-anak. Awalnya, ia hanya menjadi penjual mainan door to door. Tapi pengalaman membuatnya sadar, ternyata animo masyarakat terhadap mainan jenis ini sangat besar. Maka, ia pun memproduksinya sendiri. Modal yang minim tidak masalah. Ia mengakalinya dengan memodifikasi mesin-mesin produksi sesuai kebutuhan.

"Dunia adalah milik orang-orang yang pemberani," demikian bunyi sebuah kata bijak. Jadi, bila ingin sukses, Anda harus berani, termasuk berani memulai bisnis. Buku ini berisi kisah-kisah inspiratif yang Insya Allah akan menjadi mesin penggerak bagi keberanian Anda.

* * *

Oke, tak ada gading yang tak retak. Satu-satunya kekurangan buku ini, menurut saya, adalah bahasanya yang terlalu standar. Tapi tak apalah. Saya tetap terinspirasi oleh kisah-kisah pada buku ini, kisah para pengusaha muda yang pemberani.

Sukses untuk Pak Faif atas buku ini, yang kabarnya menjadi best seller di berbagai toko buku ternama di Indonesia.

Kisah sukses Purdie Chandra

Pernyataan John F.Kennedy ini saya yakin kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tidak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kembali mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat-hanya 2 orang - sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota , dan menjadi lembaga bimbingan terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan adalah itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses daripada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang Entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan pula berharap orang disekitar Anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap pula semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang Entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka menggunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang Entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian di balik itu). Mungkin saja kegagalan itu untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, takkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan apa yang dikatakan Richard Gere, Aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, Kita harus yakin akan menemukan kesuksesan si penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini seringkali menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh mitos yang muncul di masyarakat di sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu 'melankolis' dan suka memvonis diri sendiri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kita bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap akan menjadikan kita sebagai sosok Entrepereneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang Entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi, ukurlah berapa kali ia bangkit kembali.

Purdie Chandra.
Pemilik Primagama

Kaya Ide, Miskin Keberanian…

Ada sebuah pertanyaan menarik dari seorang peserta “Entrepreneur University” angkatan ketiga saat mengikuti kuliah perdana. “Saya begitu banyak ide bisnis, tapi nyatanya tak ada satu pun ide bisnis terealisir. Akibatnya, saya hanya sekedar kaya ide, tapi bisnis tak ada?” tanya peserta yang kebetulan ibu rumah tangga itu.

Saya kira, pertanyaan atau kejadian seperti itu tak hanya dialami oleh ibu tadi, tapi juga cukup banyak dialami oleh kita semua, bahkan yang namanya ide bisnis itu ada saja. Tapi, yah hanya sekadar ide bisnis, sementara bisnisnya nol atau tidak terwujud sama sekali. Terkadang ide yang tidak kita realisir justru sudah dicoba lebih dulu oleh orang lain. Dalam konteks ini, saya berpendapat, sebenarnya untuk membuat bisnis memang dibutuhkan ide. Hanya saja, karena kita hanya kaya ide, namun miskin keberanian untuk mencobanya, maka yang berkembang adalah idenya, sedang bisnisnya nol.

Menurut saya, miskinnya keberanian itu bermula ketika kita mendapat pendidikan di sekolah atau di bangku kuliah, yang kita dapat hanyalah teori semata. Jadi, kita terlalu banyak berteori, tapi miskin praktik. Akibatnya, ketika kita kaya ide, miskin keberanian. Artinya, kalau kita  hanya menguasai teori, namun kalau tidak bisa dipraktekkan, maka ide bisnis sehebat apa pun akan sulit menjadi kenyataan. Yah, seperti halnya kita belajar setir mobil. Kalau kita hanya teorinya, tapi tak pernah mencoba atau mempraktikkannya, tentu tetap tidak bisa setir mobil.
Jadi, saya kira, persoalannya terletak pada, bagaimana kita yang semula hanya kaya teori atau hanya sekadar bermain logika atau istilah lainnya hanya mengandalkan otak kiri, kemudian bisa berpikir atau bertindak dengan otak kanan. Saya yakin, jika kita mampu juga menggunakan otak kanan, maka seperti pada saat setir mobil. Serba otomatis, tidak lagi harus berpikir, semua sudah di bawah sadar kita.

Kalaupun, di saat kita praktik setir mobil atau mempraktikkan teori kita itu, terjadi berbagai kendala, seperti di saat kita memasukkan mobil ke garasi, mobil kita sedikit rusak karena nyenggol pagar misalnya, saya kira ngaak masalah. Begitu juga, ketika kita kecil belajar bersepeda, mengalami jatuh beberapa kali, itu sudah biasa. Tapi akhirnya, bisa juga kita naik sepeda. Artinya, kita baru bisa naik sepeda setelah pernah mengalami jatuh beberapa kali.

Di bisnis, saya kira itu juga sama. Kita harus ada keberanian untuk jatuh dan bangun. Sebaliknya, kalau kita tidak ada  keberanian seperti itu, bisnis sekecil apa pun tak akan ada. Dan, kalau kita biarkan ide bisnis itu, akibatnya kita hanya kaya ide bisnis, tapi miskin duitnya. Saya yakin, dengan keberanian itulah akan mendatangkan duit. Oleh karena itulah, menurut hemat saya, lebih baik kita berani mencoba dan gagal dari pada gagal mencoba. Anda berani mencoba?

IMAJINASI YANG EMOSIONAL

”Kemampuan manusia untuk bertahan dalam penderitaan sangatlah mengagumkan. Namun, manusia tidak bersedia menderita tanpa alasan yang jelas dan kuat.

Pandir Karya
”Jika orang selalu kehabisan uang, merasa uangnya selalu tidak mencukupi, menganggap penghasilannya terlalu kecil, pertanda apakah itu gerangan?” tanya saya kepada sejumlah kawan.
”Tanda penghasilannya kecil ,” kata Iin.
”Tanda dia orang miskin,” jawab Toni.
”Mungkin dia orang yang boros,” timpal Herlina.
”Atau gaya hidupnya yang sangat konsumtif,” ujar Didi.
”Bisa jadi karena ia punya penyakit yang perlu biaya besar,” jelas Diah.
”Wah orang itu mirip saya,” sela Rudy.
”Mungkin orangnya sering kecopetan tuh,” canda Yuyun.
”Saya kira orang yang suka ngutang begitu, gali lobang tutup lobang,” ujar Lilik.
”Kurang disiplin dalam mensyukuri nikmat Tuhan,” papar Dewi.
”Itu pertanda dia tidak berbakat untuk jadi kaya,” respons Indra.
*** Sebuah nasihat bijak diberikan oleh Paul Hanna dalam The Money Motivator berbunyi sebagai berikut

Jika Anda selalu kehabisan uang, bukan berarti Anda tidak memiliki cukup uang. Melainkan, Anda tidak memiliki cita-cita yang cukup besar untuk membuat Anda menyisihkan uang. Sebab, jika Anda memiliki keinginan yang besar untuk dikejar, Anda tidak akan banyak membuang uang hasil kerja keras Anda hanya untuk godaan kecil saja.” 

Nasihat tersebut mengingatkan saya pada seorang kawan yang bekerja sebagai pegawai negeri di lingkungan Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta pada pertengahan tahun 1980-an. Penghasilannya kala itu sekitar Rp 75.000 per bulan. Selagi belum menikah, penghasilan itu selalu habis dan bahkan ia sering kali harus berhutang kiri kanan untuk menghidupi dirinya. Lalu ia menikah. Ketika melihat istrinya mulai hamil, terjadi perubahan dalam pola konsumsi kawan saya ini. Penghasilannya relatif masih tetap. Namun ia kemudian masih bisa menabung sekitar Rp 7.000 per bulan. Ia melunasi hutangnya satu demi satu dan benar-benar mampu hidup dari penghasilannya yang tak banyak berubah itu.

Ia menemukan sebuah ”keinginan yang besar” untuk dikejar, karena cemas tak punya uang saat anaknya lahir nanti. Ia tidak ingin menjadi kepala keluarga yang dianggap tidak bertanggung jawab karena tak mampu menghidupi istri dan anaknya. Dalam dirinya ada semacam nilai yang menempatkan lelaki yang tidak bisa membiayai kehidupan keluarga sebagai manusia hina. Dan ia tidak mau dianggap hina. Ia terinspirasi oleh kecemasannya, sehingga muncul motivasi untuk berhemat dan mendisiplin diri dalam soal menggunakan uang. Ia telah mengalami apa yang saya sebut lompatan imajinasi, sehingga perilakunya berubah dalam soal keuangan. Ia mampu membayangkan dirinya menjadi lelaki yang terhormat, bukan lelaki hina. Ia telah menemukan tujuan emosionalnya.
Seorang kawan lagi menceritakan pengalaman yang berbeda tapi sama. Ia bekerja sebagai pemilik usaha konsultan dengan empat orang pegawai di akhir tahun 1990-an. Kala itu penghasilannya sekitar Rp 30 juta per bulan. Dengan seorang istri dan tiga orang anak yang berangkat remaja, uang hasil kerjanya itu sering kali habis tak berbekas. Ia nyaris tak menambah jumlah tabungan, sehingga portofolio investasinya tak berubah selama 2-3 tahun terakhir.

Sampai kemudian ia menetapkan keinginannya untuk mengganti mobil Great Corolla yang sudah digunakanya lima tahun terakhir dengan Mercedez Benz model terbaru. Keinginan ini memicu semangat kerjanya, sehingga ia lebih rajin menghubungi klien dan lebih banyak menjual jasa konsultansinya. Ketika mobil mewah idaman itu kemudian dibeli dengan cicilan yang cukup tinggi—yang harus dibayar tiap bulan—maka segera terlihat bagaimana gairah kerja dan produktivitasnya meningkat tajam.

Dalam satu tahun omzet usahanya naik sekitar 250 persen. Dan tentu saja penghasilan pribadinya pun bertambah secara luar biasa, sehingga ia bisa melunasi cicilan mobil mewah tersebut tiga tahun berikutnya. Semua itu terjadi karena ia melakukan lompatan imajinasi dan membalut imajinasinya dengan emosi sehingga ia menginginkan apa yang tadinya sekadar ia pikirkan. Ia bergerak, bangun dari zona kenyamanannya dan menantang diri untuk melangkah maju.
Kedua contoh sederhana di atas ingin menegaskan bahwa untuk menjadi kaya, kita perlu melakukan lompatan imajinasi, mampu membayangkan suatu kehidupan yang lebih baik dari keadaan kita saat ini. Lalu, agar lompatan imajinasi itu tidak sekadar jadi angan-angan, maka kita perlu sering memikirkan keadaan yang kita inginkan tersebut. Kita perlu ”melihat”, ”mendengar”, dan ”merasakan” keadaan yang kita inginkan itu, sampai tumbuh emosi yang menyertai pikiran tersebut.

Dengan begitu imajinasi kita telah dibalut oleh emosi. Artinya, meskipun pada kenyataannya kita belum sampai pada keadaan yang kita cita-citakan, namun secara emosional keadaan itu sering kali sudah hadir dalam benak kita. Inilah yang saya maksudkan sebagai imajinasi yang emosional. Ia bukan angan-angan atau khayalan kosong. Ia adalah bara api yang menyala dalam dada.
Kedua kawan saya tadi berhasil membangun imajinasi emosionalnya. Yang pertama dipicu oleh kecemasan akan dianggap menjadi lelaki tak bertanggung jawab bila tak punya uang untuk membiayai kelahiran anak dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia digerakkan oleh ketakutan dan kecemasannya ke arah yang positif. Yang kedua dipicu oleh kemampuan membayangkan dirinya menggunakan mobil mewah idaman hati, dan mungkin juga perasaan menjadi orang hebat, orang sukses, atau perasaan lainnya yang menyertai penampilannya. Ia digerakkan oleh tujuan dan keinginannya ke arah yang positif. Yang pertama menjadi lebih hemat dalam mengelola jumlah yang yang sama. Yang kedua menjadi lebih produktif, sehingga memperoleh lebih banyak uang.
Dalam menyimak situasi hidup di Jakarta dan sekitarnya, saya menyaksikan bahwa banyak orang yang berkata ingin menjadi kaya, tetapi sesungguhnya tidak benar-benar menginginkan hal itu. Terbukti mereka tidak belajar melakukan lompatan imajinasi untuk mulai berpikir seperti orang kaya. Mereka tidak membangun imajinasi yang emosional, menetapkan tujuan yang menggugah perasaan secara mendalam dan otentik. Mereka tidak bersedia mendisiplin diri dalam menabung dan berinvestasi secara bertahap, waktu demi waktu. Andai pun sempat menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung, mereka kemudian mudah tergoda oleh paket-paket diskon dan pameran-pameran barang konsumtif di kuil-kuil konsumerisme yang bernama mal atau pusat pembelanjaan.
Imajinasi yang emosional, tujuan yang menggugah perasaan, cita-cita yang jujur dari hati, adakah kita memilikinya? Kalau hal itu ada, berapa kecil pun penghasilan kita, pasti ada cara untuk menyisihkan sebagian untuk ditabung, untuk diinvestasikan, untuk disisihkan agar terus bertambah. Dengan demikian akan tiba saatnya apa yang kita inginkan bisa terwujud, tujuan bisa tercapai, cita-cita menjadi realita. Percayalah!

HIDUPLAH SAAT INI

Pada suatu pagi buta, seorang pemuda mendatangi rumah gurunya yang dikenal bijak di desa itu. Dia mengetuk pintu rumah dengan keras, sambil suaranya terdengar memanggil-manggil gurunya.
Si guru sambil mengusap matanya dan menahan kuap membuka pintu sambil berkata, "Ada apa anakku? Pagi-pagi begini mengganggu nyenyak tidurku. Ada sesuatu yang penting?" Pemuda menjawab, "Ampun guru, maafkan saya terpaksa mengganggu tidur guru. 
 
Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan." Si guru kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam rumah dan pemuda itu pun segera menceritakan kegundahannya, yakni semalam dia bermimpi dijemput malaikat dan diajak pergi meninggalkan dunia ini. Dia ingin menolak tetapi sesuatu seperti memaksanya harus pergi. Saat tarik menarik itulah dia terbangun sambil berkeringat dan tidak dapat tidur lagi. Timbul perasaan takut dan tidak berdaya membayangkan bila malaikat benar-benar datang kepadanya.
Si pemuda kemudian bertanya kepada gurunya, "Guru, kapan kematian akan datang kepada manusia?" Gurunya menjawab, "Saya tidak tahu anakku. Kematian adalah rahasia Tuhan".
"Aaaakh, guru pasti tahu. Guru kan selalu menjadi tempat bertanya bagi semua orang di daerah sini,? desak si murid. "Baiklah. Sebenarnya rata-rata manusia meninggal pada usia 70 sampai 75 tahun. Tetapi sebagian ada yang tidak mencapai atau lebih dari perkiraan tersebut." Merasa tidak puas dia kembali bertanya, "Jadi, umur berapakah manusia pantas untuk mati?" Sambil pandangannya menerawang keluar jendela, sang guru menjawab, "Sesungguhnya, begitu manusia dilahirkan, proses penuaan langsung terjadi. Sejak saat itu, manusia semakin tua dan kapan pun bisa mengalami kematian". Si murid bertanya terus, "Lalu, bagaimana sebaiknya saya menjalani hidup ini?"

?Hidup sesungguhnya adalah saat ini, bukan besok atau kemarin. Hargai hidup yang singkat ini, jangan sia siakan waktu. Bekerjalah secara jujur dan bertanggung jawab, usahakan berbuat baik pada setiap kesempatan. Jangan takut mati, nikmati kehidupanmu! Mengerti?? Dengan wajah gembira si murid berkata, "Terima kasih guru, saya mengerti. Saya akan belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, berani menghadapi hidup ini, sekaligus menikmatinya. Saya pamit guru."

Hiduplah saat ini, tidak usah menyesali hari kemarin, karena hari kemarin sudah berlalu, tidak usah cemas akan hari esok, karena hari esok belum datang,

Hanya hari ini yang menjanjikan kesuksesan , kebahagian bagi setiap orang yang mau dan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penuh totalitas!
Sekali lagi,

Hiduplah saat ini!!

Bob Sadino: "Saya Tidak Suka Bekerja dalam Tekanan, Makanya Saya Memilih Jadi Entrepreneur"

Pernyataan itu terungkap dalam tanya jawab dengan peserta pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh DPP PKS dan Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), Rabu 27 September 2006 di Auditorium Pegadaian.


Awalnya, pengusaha agribisnis dan swalayan Kemchiks yang akrab disapa Oom Bob ini mengisahkan alasan kenapa dia memutar haluan dari profesional menjadi seorang entrepreneur. "Saya sebel dengan atasan saya", katannya. Setiap ingat dengan bossnya itu, dia stress. Makanya, tanpa pikir panjang, di tahun 1967 dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi entrepreneur.

Keputusannya itu harus dibayar mahal. Selama setahun dia menjadi supir taksi di Jakarta. Kemudian jadi kuli bangunan, karena taksinya tabrakan dan dia tidak punya uang untuk memperbaikinya. Jika dibandingkan dengan jabatannya dulu, ini jelas bumi dan langit. Dia sudah menikmati kursi empuk di perusahaan besar dan sempat melanglang buana di berbagai negara. Tapi itu dilaluinya dengan keyakinan bahwa, meskipun jadi supir taksi atau kuli bangunan, tetap lebih enak karena tidak ada tekanan dari siapa pun. Dia ingin menjadi orang bebas. "Selama setahun itu saya dan istri sering makan cuma dengan gado-gado dan telur", timpalnya.

Kepada peserta pelatihan dia berpesan bahwa sebagai entrepreneur anda harus jadi orang bebas. Tidak boleh ada apa pun yang menekan anda, meskipun itu istri atau suami anda. Pernyataan itu disambut dengan anggukan dan tawa dari sebagian besar peserta.

Bob Sadino, sosok sukses yang kerap membuat pernyataan nyeleneh itu selalu bikin peserta geleng-geleng kepala mendengarnya. Dia punya "logika terbalik" dalam berpikir. Contohnya:
- Tujuan berbisnis adalah mencari rugi, bukan untung
- Dia tidak pernah punya tujuan dan target
- Dia anti manajemen dan tidak peduli dengan manajemen
- Dia tidak suka bekerja keras dan tidak pernah bekerja keras
- Dan yang paling kontroversial adalah dia tidak pernah berdoa untuk masuk surga, malah dia ingin masuk neraka.

Tapi, Oom Bob berbicara begitu dengan alasannya sendiri dan kalau dipikir-pikir masuk akal juga. Misalnya, berbisnis adalah untuk mencari rugi. Dia mengambil contoh sebuah gelas yang setengah terisi air. Kepada peserta dia memberikan 3 pilihan:
1. Gelas itu setengah penuh
2. Gelas itu setengah kosong
3. Sama saja

Pendapat peserta terpecah ke tiga pilihan tersebut. Dan akhirnya disimpulkan bahwa pendapat yang mengatakan gelas itu setengah penuh atau setengah kosong adalah sama saja. Jadi, berbisnis mencari rugi tidak selalu berakhir dengan kerugian. Kadang-kadang rugi, kadang-kadang untung. Kalau kita mencari untung tidak akan selalu untung, pasti kadang-kadang rugi. Jadi sama saja. Iya juga ya...

Sepulang dari pelatihan itu saya banyak juga menemukan pencerahan atau AHA. Cara berpikir saya selama ini banyak yang perlu diubah. Salah satunya adalah pernyataan Oom Bob mengenai pesaing. Pesaing itu kita butuhkan. Bukannya dihindari. Pesaing itu ibarat vitamin, katanya. Jadi, kalau kita tidak minum vitamin, badan kita menjadi kurang sehat. Pengalamannya yang lebih dari 35 tahun tidak perlu diragukan lagi.

Saya senang dengan pernyataannya soal entrepeneur harus bebas dari tekanan dan menjadi orang bebas. Itu pun saya rasakan saat ini. Kemudian, soal anti bekerja keras. Maksudnya bukanlah menjadi orang malas. Baginya bekerja keras itu adalah mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai. Kalau pekerjaan itu disukai, tidak menjadi masalah mau dilakukan dari pagi sampai malam. Asal kita senang. Kalau pekerjaan itu tidak disukai, biar pun hanya bekerja 5 menit saja, itu adalah bekerja keras.

Kamis, 15 April 2010

Massa Depan ada di masa Lalu

Saya pernah membaca kalimat motivasi: “Your past doesn’t equal your future” atau “Masa lalu Anda tidak sama dengan masa depan Anda”. Maksud dari pernyataan ini adalah apa pun yang terjadi di masa lalu kita tidak menentukan masa depan kita.

Benarkah demikian?    

Dulu saya menerima sepenuhnya pernyataan di atas. Dengan kata lain saya hakulyakin bahwa penyataan ini benar-benar benar. Namun, sekarang saya justru berpikir sebaliknya. Saat ini, saya tahu bahwa masa lalu sama dengan masa depan atau masa depan ada di masa lalu. 

Nah, bingung, kan?
Kesimpulan ini saya dapatkan setelah memikirkan secara mendalam berbagai kasus yang pernah saya tangani dan juga pengalaman hidup serta perubahan yang terjadi pada begitu banyak alumnus pelatihan Supercamp Becoming a Money Magnet dan The Secret of Mindset yang saya selenggarakan. 

Ceritanya begini. Jika masa lalu tidak sama dengan masa depan, lalu mengapa ada begitu banyak orang yang sulit mencapai impian mereka? Mengapa mereka, yang telah berusaha sedemikian keras alias melakukan massive action melakukan sangat banyak upaya, membaca banyak buku sukses, ikut berbagai pelatihan pengembangan diri, masih saja tetap sulit berhasil? 

Sebaliknya, mengapa ada orang yang tidak perlu membaca buku, tidak usah dengar kaset motivasi, nggak pernah ke berbagai seminar, dan hanya dengan upaya yang sedikit, eh… mudah sekali mencapai sukses yang mereka inginkan. 



Dari hasil perenungan saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa masa lalu seseorang sama dengan masa depan mereka. Jika tetap berpegang teguh pada pernyataan bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan maka kalimat ini perlu sedikit dimodifikasi.

Saya akhirnya menambahkannya menjadi, “Masa lalu tidak sama dengan masa depan, bila kita mengembangkan kesadaran diri untuk berpikir dan bertindak dengan prinsip kekinian.”
Lha, kamsud… eh.. maksudnya apa lagi nih?

Maksudnya begini. Dari berbagai kasus yang saya telaah, saya menemukan bahwa hampir semua tindakan kita, saat ini, dipengaruhi oleh kesimpulan akibat pembelajaran berdasar pengalaman hidup kita di masa lalu, baik itu pengalaman positif maupun pengalaman negatif. Dengan kata lain, selama kita tidak mengembangkan kesadaran diri untuk bisa berpikir dengan prinsip kekinian maka kita akan selalu beroperasi dengan “automatic pilot”. Sebenarnya di dalam pikiran kita tidak mengenal masa lalu maupun masa depan. Yang ada hanyalah masa sekarang.

Saya akan berikan contoh agar bisa lebih jelas.
Baru-baru ini saya menangani mahasiswa dari Yogyakarta yang putus kuliah. Ia bercerita bahwa ia tidak bisa berbicara di depan umum. Jika diminta bicara di depan orang banyak maka ia selalu merasa takut, tidak berdaya, jantung berdebar, muka pucat, keringat dingin, dan tidak tahu apa yang harus diucapkan. 

Dari mana ia belajar respon seperti ini? Sudah tentu dari masa lalunya. Di masa lalu, saat ia masih SD ternyata ia pernah dipermalukan di depan kelas saat diminta membaca puisi. Pengalaman traumatik ini yang akhirnya membuat ia seperti sekarang ini.

Seorang wanita cantik, menarik, pintar, berusia sekitar 30-an, memegang posisi kunci di perusahaan tempat ia bekerja, ternyata masih jomblo alias belum punya pasangan. Kok bisa, ya? 

Banyak pria mapan yang menyenanginya. Dan, ia juga suka pada mereka. Bahkan, ia telah menjalin kasih secara serius dengan beberapa pria itu. Namun, selalu putus di tengah jalan. Nggak pernah sampai ke pernikahan.

Selidik punya selidik ternyata wanita ini berasal dari keluarga broken home. Orangtuanya berpisah saat ia masih berusia lima tahun. Ternyata, perpisahan ini meninggalkan luka yang membekas cukup dalam di hatinya. Saat itu ia menyimpulkan bahwa kehidupan rumah tangga adalah sesuatu yang menyakitkan.

Namun, ada juga orang yang telah beberapa kali mengalami kegagalan tapi ia tetap bisa bangkit dari kegagalan itu dan akhirnya berhasil mencapai impiannya. Saat ditanya mengapa ia bisa begitu gigih dan yakin dalam memperjuangkan impiannya ia menjawab, “Saya berasal dari keluarga miskin. Ayah saya selalu berpesan bahwa tidak ada orang yang gagal asalkan ia mau terus berusaha, belajar dari kegagalannya, dan terus berjuang. Prinsip ini yang saya pegang teguh.” Ia tidak membiarkan apa yang dialaminya sekarang menghentikan langkahnya. Yang menjadi pendorong semangatnya adalah pesan ayahnya, yang ia dapatkan sewaktu ia masih kecil dulu. 

Nah, Anda jelas sekarang? 
Tadi saya mengatakan bahwa masa lalu tidak sama dengan masa depan, bila kita mengembangkan kesadaran diri untuk berpikir dan bertindak dengan prinsip kekinian. Untuk bisa membuat masa depan tidak sama dengan masa lalu maka kita perlu mengembangkan kesadaran diri. Kesadaran ini yang membuat kita bertindak tidak lagi berdasar “data base” atau “program” pikiran akibat pengalaman masa lalu namun berdasar kondisi kita saat ini. Inilah yang saya maksudkan dengan prinsip kekinian. 

Prinsip kekinian menyatakan bahwa saat ini (kini) adalah titik awal dari langkah kehidupan yang akan kita tempuh. Kita beroperasi dengan pengetahuan, pengalaman, pemahaman, prinsip hidup, dan kebijaksanaan yang berhasil kita kembangkan hingga saat ini. Kita tidak membiarkan masa lalu mendikte hidup kita. Kita mengenang masa lalu hanya sebagai sejarah hidup kita. Kita belajar dari masa lalu dan menjadi lebih bijaksana. Nah, saat merenung mengenai kesadaran, kebijaksanaan, dan masa depan… eh.. tiba-tiba saya mendapat email dari kawan saya, Eric Gotana, melalui milis Money Magnet. Apa yang Eric tulis sejalan dengan yang sedang saya pikirkan. Dan, atas seizin Eric saya mengutip dan sedikit memodifikasi tulisannya.

Masa depan sama dengan masa lalu karena kita "tidak bebas" menjalani kehidupan di dunia sebagai akibat dari ketidaksadaran kita.

"Tidak bebas" menjalani hidup maksudnya tidak bebas menjadi diri kita sendiri karena rasa takut seperti takut dosa, takut karma buruk, takut salah, takut berakibat buruk dan takut-takut lainnya yang dibenarkan oleh pikiran kita. Pada contoh di atas, mahasiswa yang takut bicara di depan umum dan wanita yang susah dapat jodoh (baca: takut menikah) menjalani hidup dengan “tidak bebas” akibat penjara mental yang dibangun oleh pikiran mereka, untuk melindungi mereka dari hal-hal “negatif”, menurut pikiran itu sendiri. 

Ketidaksadaran ini disebabkan oleh karena pikiran kita merekayasa (baca: menafsirkan secara subjektif) kebenarannya sendiri dan secara terus menerus berputar-putar di dalam lingkaran sebab-akibat yang diciptakannya sendiri. 

 Ketidaksadaran membuat kita tidak sadar akan adanya :
  • kebenaran, karena kita terkekang oleh "kebenaran" dan "ketidakbenaran" menurut penafsiran pikiran kita.
  • keadilan, karena kita terkekang oleh "keadilan" dan "ketidakadilan" menurut penafsiran pikiran kita.
  • surga, karena kita terkekang oleh "surga" dan "neraka" menurut penafsiran pikiran kita.
  • karma baik, karena kita terkekang oleh "karma baik" dan "karma buruk" menurut penafsiran pikiran kita.
  • keberlimpahan, karena kita terkekang oleh "kekayaan" dan "kemelaratan" menurut penafsiran pikiran kita.
  • kebahagiaan, karena kita terkekang oleh "kebahagiaan" dan "ketidakbahagiaan" menurut penafsiran pikiran kita.
Hanya melalui kebijaksanaan kita mampu bebas dari jerat "benar" dan "tidak benar" menurut pikiran sehingga mampu melihat apa yang ada secara jernih. Kebijaksanaan hanya muncul ketika kita memutuskan untuk menjadi sadar. 

Pada saat kita telah benar-benar sadar maka masa lalu tidak sama dengan masa depan, masa depan tidak ada di masa lalu, masa depan adalah hasil pencapaian yang diraih melalui perencanaan yang matang berdasar peta kehidupan yang kita rancang sendiri, secara hati-hati dan saksama, berdasar kesadaran kita pada saat itu.

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator

Kekuatan Pikiran

Action & Wisdom Motivation Training

Dikisahkan, ada seorang ibu yang sangat menyayangi putra tunggalnya. Karena rasa kuatir yang sangat, ditambah maraknya berita penculikan di media massa, si ibu pun memberi nasihat kepada putranya, "Nak, kalau matahari sudah tidak bersinar lagi, jangan keluar rumah ya. Karena saat gelap seperti itulah roh jahat mulai bermunculan. Ada yang disebut kuntilanak, genderuwo, dan lain-lain. Pokoknya mahkluk jelek, hitam, dan jahat. Maka belajar baik-baik di dalam rumah saja ya, terutama malam hari, oke?" sang anak, yang sedikit penakut, dengan senang hati mematuhi nasehat ibunya.

Setelah beranjak remaja, si anak tumbuh menjadi pemuda cilik yang penakut dan pengecut. Seringkali, ketakutannya yang berlebihan itu terbawa-bawa dalam mimpi. Tidak jarang, ketika tidur ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak histeris serta bersimbah peluh ketakutan. Kedua orangtuanya pun menjadi khawatir melihat perkembangan jiwa si anak. Berbagai nasehat bernada menghibur yang disampaikan si orangtua kepada anaknya tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan, kadang si anak justru merasa orangtuanya berusaha mencelakai dia.
Suatu hari, sang kakek mendengar kondisi cucunya tersebut. Maka, ia pun segera menyempatkan diri berkunjung ke rumah anaknya. Setelah memikirkan dengan seksama, suatu sore, si kakek mengajak cucunya berjalan-jalan ke pasar malam bersama-sama dengan beberapa orang tetangga dan teman si cucu. Sesampainya di pasar malam itu, mereka pun bersenang-senang. Sang cucu dan teman-temannya bermain dan melihat berbagai pertunjukkan hingga malam hari. Setelah puas dan lelah bermain, mereka pun berjalan kaki pulang ke rumah.
Tiba di rumah, si kakek meneruskan berbincang santai dengan cucunya. "Cucuku, terang dan gelap adalah sifat alam. Tidak ada hubungannya dengan roh gentayangan dan kejahatan. Sudah kita buktikan sendiri, kan? Bukankah sepanjang jalan dalam kegelapan tadi tidak ada satu pun roh jahat yang mengganggu? Ketahuilah, roh jahat hanya ada di pikiran kamu sendiri. Usir dia dari pikiranmu, maka tidak akan ada yang namanya roh jahat di muka bumi ini. Kakek yang sudah setua ini telah membuktikan sendiri. Ketakutan hanya ada di pikiran kita. Gunakan pikiranmu untuk hal-hal yang baik, maka engkau akan membuat segalanya menjadi baik, indah, dan membahagiakan."
Demikianlah, berkat kata-kata bijak dari si kakek, lewat proses waktu, akhirnya si cucu mampu mengubah mindset dan memiliki kesehatan mentalitas yang positif. Ia pun tumbuh jadi pemuda yang pemberani.


Pembaca yang budiman,
Mendidik anak dengan nada ancaman atau dengan menakutinya, walaupun untuk tujuan yang baik, bisa berdampak buruk dan merusak kesehatan mental, bila tidak disertai dengan pengertian benar!
Hukum pikiran bersifat universal dan berlaku untuk siapa saja, baik anak-anak atau orang dewasa, yakni you are what you think, Anda adalah apa yang Anda pikirkan! Maka, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. You are what you believe, Anda adalah apa yang Anda percayai!
Karena itu, kalau yang kita tanamkan ke dalam pikiran kita setiap hari adalah hal-hal yang negatif, dampaknya akan destruktif atau merusak. Sebaliknya, kalau baik dan positif sifatnya, tentu dampak dalam kehidupan kita akan menjadi positif dan konstruktif.

Jangan Pernah Terlalu berharap

Anita Roddick adalah perintis perusahaan waralaba The Body Shop yang kini sudah mendunia. Sebelum perusahaan The Body Shop dikenal seperti sekarang, Anita pernah berinisiatif menggerakkan seluruh karyawannya yang berada di kantor pusat untuk melakukan bakti sosial dalam rangka Hari Dunia. Bentuk bakti sosial tersebut adalah membersihkan sebuah pantai di Inggris.



Tetapi inisiatif Anita tidak direspon positif oleh mayoritas pegawainya. Hanya sebagian kecil karyawan, yaitu sekitar 13 orang, yang bersedia berpartisipasi dalam bakti sosial tersebut. Sedangkan mayoritas pegawainya memilih untuk menghindar dengan berbagai alasan. Anita sangat kecewa atas penolakan yang ditunjukkan oleh mayoritas karyawan.
Tetapi dalam perjalanan menuju pantai yang akan dibersihkan, Anita merasa sedikit terhibur. Pasalnya, ia berpapasan dengan seorang pengendara sepeda yang ramah. “Mau kemana?” tanya pengendara sepeda itu kepada dirinya dan rombongan.
“Hari ini adalah Hari Dunia. Kami akan ke pantai untuk membersihkan pantai itu,” jawab Anita Roddick antusias sambil menunjuk sebuah pantai indah di depan mereka.
“Luar biasa! Kemauan Anda semua sangat mulia. Saya sangat senang ada orang yang bersedia turun tangan membersihkan pantai ini, karena memang sudah sangat kotor,” lanjut pengendara sepeda itu tak kalah bersemangat dibadingkan dengan Anita.
“Kalau begitu, mari bergabung bersama kami membersihkan pantai,” ucap Anita girang karena merasa berhasil mendapatkan simpati dan dukungan dari pengendara sepeda itu.
“Jangan pernah harap ya!” cetus pengendara sepeda itu mengejutkan. Tanpa basa-basi pengendara sepeda itu langsung mengayuh sepedanya kencang sekali. Anita dan rombongan ternganga tak percaya pada respon yang sedemikian negatif.
Pengalaman pahit tersebut memberi sebuah pelajaran berharga bagi Anita, bahwa kesadaran orang lain terhadap lingkungan tak mudah diketuk hanya dengan himbauan. Ia berpikir mungkin kesadaran untuk mencintai lingkungan akan tumbuh, bila himbauan itu terus didengungkan lewat berbagai macam media, misalnya poster, brosur, kampanye secara langsung, dan lain sebagainya.
Karena itu dalam setiap pertemuan bersama para stafnya, Anita selalu berkata, “Menciptakan keuntungan dari segi keuangan saja tidak cukup, kita harus menciptakan kemajuan dalam segi spiritual!” Anita sangat serius dengan apa yang ia ucapkan itu. Di bawah kepemimpinannya The Body Shop mencapai kemajuan luar biasa, sudah tersebar di lebih dari 50 negara dengan 1.900 gerai di dunia. Meskipun demikian, perusahaan tersebut masih memegang teguh sebuah visi, yaitu kepedulian terhadap lingkungan.
Pesan:
Kisah di atas menunjukkan bahwa kepedulian itu sangat penting. Bahkan hampir semua agama di dunia menandaskan tentang pentingnya kepedulian. Kepedulian adalah sumber kebaikan.
Meskipun masih sangat sulit dibudayakan, tetapi kepedulian dapat ditumbuhkan hingga akhirnya membudaya dalam kehidupan kita. Langkah pertama guna menumbuhkan kepedulian adalah menjadi panutan. Dengan kata lain kepedulian itu dimulai dari diri kita sendiri.
Langkah selanjutnya adalah mengkomunikasikan dengan orang-orang yang besangkutan tentang solusi-solusi dari masalah yang sedang dihadapi bersama. Jika perlu prinsip-prinsip kepedulian yang dapat dijadikan solusi tersebut dicetak dalam ukuran besar atau cukup menarik perhatian. Dalam kisah di atas Anita berinisiatif mensosialisasikan kepedulian melalui seruan-seruan misalnya dalam bentuk spanduk atau papan iklan, disiarkan lewat media elektronik, cetak, dan lain sebagainya.
Dalam periode tertentu sebaiknya hasil dari kepedulian tersebut disiarkan untuk diketahui bersama. Misalnya sumbangan sukarela dari penduduk di kampung-kampung sebagai bentuk kepedulian disiarkan berapa uang yang sudah terkumpul dan yang sudah digunakan, perubahan yang dihasilkan sekaligus anggaran yang dibutuhkan untuk program selanjutnya. Keterbukaan seperti itu menjadi sumber motivasi bagi setiap individu dari lapisan masyarakat yang lebih luas untuk berpartisipasi, apalagi jika kepedulian tersebut ditujukan untuk memperbaiki keadaan, mengatasi masalah, dan mewujudkan harapan mereka semua.[aho]