Senin, 25 Juni 2012

4 POLA PIKIR ORANG SUKSES


orang sukses punya pola pikir..., atau cara berfikir yang berbeda dengan pola pikir kebanyakan orang yang tidak sukses. Apa saja itu ?

Banyak Buku Biography yang menceritakan tentang bagaimana perjalan hidup, dan karir bisnis dari orang-rang sukses yang ada di dunia ini - dan tentunya semua pola pikir dari orang-orang sukses tersebut dapat dijadikan tolok ukur - dan juga menjadi Inspirasi yang sangat berharga bagi setiap orang lain-nya yang ada di muka bumi ini, agar tentunya, setiap orang lain juga berhak dapat meraih rahasia dari "kesuksesan" tadi - sebelum action, dalam mencapai sukses tentunya, harus dimulai dari merubah kebiasan konsep pola pikir ( mind set ) yang lama, menjadi lebih baru, dan lebih terbuka dan tanggap terhadap setiap segala hal yang sedang terjadi - dalam memaknai setiap hal, dengan lebih cermat sehingga dapat menumukan solusi baru dalam melangkah mencapai menuju anak tangga kesuksesan tersebut. dan apa saja yag menjadi pola pikir orang sukses..

Sukses tidak ditentukan oleh nasib
Nasib seseorang sangat dipengaruhi oleh semua tindakan yang dilakukannya. Tentu saja tindakan-tindakan itu dimotori oleh pola pikirnya. Menjadi orang sukses dan kaya atau menjadi orang gagal dan miskin bukanlah karena nasib, melainkan karena pola pikir dan tindakannya yang berakibat pada keadaan sekarang. Untuk menjadi sukses dan kaya, orang harus berkemauan keras dan berusaha secara konsisten dari waktu ke waktu. Untuk mencapai sukses yang lebih besar, Kita sewajarnya harus meniru cara berpikir dan cara kerja orang sukses, yaitu mulai dengan sukses-sukses kecil setiap waktu dan dilandasi banyak kemampuan yang akan mempermudah jalan menunju sukses dan kaya.

Sukses adalah suatu kebiasaan
Orang sukses menjadi sukses sebagai suatu kebiasaan yang harus dijalani. Baginya, sukses bukanlah suatu destinasi (tujuan akhir), melainkan suatu proses perjalanan. Setiap keputusan dan tindakan jitu yang Anda lakukan sudah merupakan sukses. Dalam perjalanan hidup sehari-hari, Anda akan banyak mendapatkan sukses-sukses yang terkumpul menjadi sukses besar. Sukses besar tidak dihasilkan hanya dari satu keputusan dan satu tindakan saja, melainkan merupakan akumulasi dari setiap sukses yang Anda peroleh sehari-hari. Dengan demikian, sukses adalah suatu kebiasaaan positif di dalam hidup seseorang.

Kegagalan adalah bagian dari sukses
Orang sukses memandang kegagalan yang dialaminya sebagai bagian dari kesuksesan, sehingga tidak seharusnya membuatnya jera dan menghalangi peluang sukses di masa yang akan datang. Kegagalan hanyalah suatu kesuksesan yang tertunda. Justru dengan suatu kegagalan yang dialaminya ia akan bertambah pengalaman, aman, dan bertambah matang. Ia bertambah gigih dan berhasil. Sebaliknya, orang gagal akan memadang pengalaman ke gagalnya sebagai suatu "trauma" yang membuatnya menjadi jera dan takut untuk memulai lagi.

Orang sukses selalu berorentasi kepada solusi
Dalam hidup, orang yang tidak akan pernah lepas dari masalah. Orang sukses meyakini bahwa di balik suatu masalah yang datang pasti ada peluang dan solusinya. Pola pikir seperti inilah yang membuatnya tahan uji dan tak mudah menyetah. Sebaliknya, orang gagal akan memandang adanya masalah di setiap solusi yang dibuat. Akibatnya, ia cenderung pesimistis dalam menanggapi setiap peluang,. Ia lebih memilih status quo yang dirasa paling aman baginya. Orang gagal biasanya takut mencoba. Baginya lebih baik berdiam diri daripada mencoba dan gagal.

Jumat, 22 Juni 2012

Cermin Kehormatan


Cermin Kehormatan - Hidup itu tidak semudah yang semestinya kita anggap mudah. Meskipun kita berasumsi hidup itu mudah, tapi kita juga harus berusaha agar hidup kita itu memang terasa mudah. Hidup yang mudah itu tidak melulu berpijak pada asumsi, tetapi juga realita atau kenyataan yang ada. Maksudnya, apalagi kalau bukan usaha kita.

Kemudahan hidup itu juga dapat kita relevansikan dengan praktik untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari orang lain karena kita cenderung dianggap lebih oleh orang lain. Kelebihan yang ada pada diri kita memang bisa menjadi poin plus bagi kemudahan usaha kita meraih sesuatu. Secara sederhananya, kita hanya perlu untuk melakukan usaha kecil untuk bisa mendapatkan hasil, walaupun hasil yang besar sekalipun.

Akan tetapi, tidak semua aspek kehidupan dapat dijangkau dengan prinsip sederhana seperti itu. Ada kalanya kita memang harus benar-benar menggunakan jalan lain untuk bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan. Penghargaan dan penghormatan dari orang lain misalnya. Meskipun kita adalah seseorang yang berkedudukan dan memiliki reputasi tinggi, tetapi itu bukanlah jaminan jika kita akan dengan mudah mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari orang lain. Semua itu butuh usaha!

Dalam hal ini, prinsip dasar jika kemudahan akan tercipta melalui asumsi memudahkan, kekuasaan, hingga usaha kecil tidak akan berlaku dengan baik. Penghormatan dan penghargaan itu butuh usaha yang ekstra untuk bisa mendapatkannya. Prinsipnya, hormatilah orang lain jika kita ingin mendapatkan penghormatan yang baik. Hargailah orang lain dengan sebaik-baiknya penghargaan yang dapat kita berikan jika kita ingin dihargai dengan setulus hati.

Mudah?
Tentu akan terasa mudah jika kita ikhlas dan mantap dalam menjalaninya. Kehormatan yang kita terima adalah cerminan dari sikap kita yang selalu menghormati orang lain. Siapapun akan merasa segan jika kita berperilaku sopan. Jadi, hormati dan hargailah orang lain dengan sebaik-baiknya jika kita ingin mendapatkan balasan penghormatan dan penghargaan yang baik. Hindari asumsi memudahkan yang terkesan meremehkan, penggunaan kekuasaan, dan usaha yang tidak maksimal.

Semua yang kita kerjakan pasti akan ada balasannya, apakah itu baik atau buruk, tergantung dari apa yang kita lakukan.

Kamis, 21 Juni 2012

Sup Batu


 selamat beraktivitas kawan semua,semoga Tuhan selalu memberikan perlindungan bagi kita semua.untuk menemani kawan2 beraktivitas. saya akan share sedikit cerita yang mungkin bisa menjadi sumber inspirasi bagi kita.

pada suatu hari, tiga orang bijaksana berjalan melintasi sebuah desa kecil.
Desa itu tampak miskin. Tampak dari sawah-sawah sekitarnya yang sudah tidak menghasilkan apa-apa lagi. Ya, memang telah terjadi perang di negeri itu - dan sebagai rakyat jelata - merekalah yang kena dampaknya. Macetnya distribusi pupuk, bibit, dan kesulitan-kesulitan lain membuat sawah mereka tidak mampu menghasilkan apa-apa lagi. Cuma beberapa puluh orang yang masih setia tinggal di desa itu.
Sekonyong-konyong beberapa orang mengerubuti tiga orang bijaksana itu. Dengan memijit-mijit tangan dan punggung tiga orang itu, orang-orang desa memelas dan meminta sedekah, roti, beras, atau apalah yang bisa dimakan.
Satu dari tiga orang bijaksana itu lalu bertanya kepada penduduk desa itu, “Apakah kalian tidak punya apa-apa, hingga kalian meminta-minta seperti ini ?”
“Kami tidak memiliki apapun untuk dimakan, hanya batu-batu berserakan itu yang kita miliki.” Jawab salah satu penduduk desa.
“Maukah kalian kuajari untuk membuat sup dari batu-batu itu ?” tanya orang bijaksana sekali lagi.
Dengan setengah tidak percaya, penduduk itu menjawab, “Mau..”
“Baiklah ikutilah petunjukku.” Orang bijaksana itu menjelaskan, “Pertama-tama, ambil tiga batu besar itu, lalu cucilah hingga bersih !” perintah orang bijaksana sambil menunjuk tiga buah batu sebesar kepalan tangan. Orang-orang pun mengikuti perintahnya.
Sesudah batu itu dicuci dengan bersih hingga tanpa ada pasir sedikitpun di permukaannya. Orang bijaksana itu lalu menyuruh penduduk untuk menyiapkan panci yang paling besar dan menyuruh panci itu untuk diisi dengan air. Ketiga batu bersih itupun lalu dimasukkan ke dalam panci - dan sesuai dengan petunjuk orang bijaksana itu - batu-batu itupun mulai direbus.
“Ada yang dari kalian tau bumbu masak ? Batu-batu itu tidak akan enak rasanya jika dimasak tanpa bumbu.” Tanya orang bijaksana.
“Aku tahu !” seru seorang ibu, kemudian ia mengambil sebagian persediaan bumbu dapurnya, kemudian meraciknya, dan memasukkannya kedalam panci besar itu.
“Adakah dari kalian yang memiliki bahan-bahan sup yang lain ?” Tanya orang bijaksana itu. “Sup ini akan lebih enak jika kalian menambahkan beberapa bahan lain, jangan cuma batu saja.”
Beberapa penduduk mulai mencari bahan-bahan makanan lain di sekitar desa. Beberapa waktu kemudian dua orang datang dengan membawa tiga kantung kentang. “Kami menemukannya di dekat kali, ternyata ada banyak sekali kentang liar tumbuh disana.” Katanya. Kemudian orang itu mengupas, encuci, dan memotong-motong kentang-kentang itu dan memasukkannya ke dalam panci.
Kurang dari satu menit, seorang ibu datang dengan membawa buncis dan sawi. “Aku masih punya banyak dari kebun di belakang halaman rumahku.” Kata ibu itu, lalu ibu itu meraciknya dan memasukkannya ke dalam panci.
Sesaat, datang pula seorang bapak dengan tiga ekor kelinci di tangannya. “Aku berhasil memburu tiga ekor kelinci, kalau ada waktu banyak, mungkin aku bisa membawa lebih lagi, soalnya aku baru saja menemukan banyak sekali kawanan kelinci di balik bukit itu.” Dengan bantuan beberapa orang, tiga kelinci itu pun disembelih dan diolah kemudian dimasukkan ke dalam panci.
Merasa telah melihat beberapa orang berhasil menyumbang sesuatu. Penduduk-penduduk yang lain tidak mau kalah, mereka pun mulai mencari-cari sesuatu yang dapat dimasukkan ke dalam panci sebagai pelengkap sup batu.
Kurang dari satu jam, beberapa penduduk mulai membawa kol, buncis, jagung, dan bermacam-macam sayuran lain. Tak hanya itu, anak-anak juga membawa bermacam-macam buah dari hutan. Mereka berpikir akan enak sekali jika buah-buah itu bisa dijadikan pencuci mulut sesudah sup disantap. Ada pula seorang bapak yang membawa susu dari kambing piaraannya, dan ada pula yang membawa madu dari lebah liar yang bersarang di beberapa pohon di desa itu.
Beberapa jam kemudian sup batu itu telah matang. Panci yang sangat besar itu sekarang telah penuh dengan berbagai sayuran dan siap disantap. Dengan suka cita, penduduk itu makan bersama dengan lahapnya. Mereka sudah sangat kenyang, hingga mereka lupa ‘memakan’ batu yang terletak di dasar panci.
Tiga orang bijaksana itu hanya tersenyum melihat tingkah para penduduk itu. Dan mereka pun sadar, sekarang waktunya mereka untuk meneruskan perjalanan. Mereka mohon diri untuk meninggalkan desa itu.
Sebelum beranjak pergi, seorang bapak sekonyong-konyong memeluk dan menciumi ketiga orang itu sambil berkata, “Terima kasih telah mengajari kami untuk membuat sup dari batu....”

masalah ( kelaparan ) yang di hadapi penduduk di atas kita ibratkan adalah sebuah tujuan dari seorang manusia. kalau dalam mencapai sebuah tujuan manusia hanya diam dan hanya cuma menunggu bantuan saja tujuan yang kita impikan tidak akan kita dapatkan.dan bagaimana sebuah tujuan yang kita bikin bisa terealisasi...3 orang bijak sudah memberikan contohnya yaitu dengan bergerak dan bertindak dengan memanfaatkan potensi yang ada dlm diri kita dan di sekitar kita tujuan akan tercapai.
( sumber : http://www.nomor1.com/wyjj9316 )

Senin, 18 Juni 2012

Dua Buah Ember


dua buah ember di tepi sebuah sungai. Tak dapat dipastikan sudah berapa banyak air yang telah mengisi kedua ember itu. Namun selalu saja kedua ember tersebut pada akhirnya harus menjadi kosong, dan akan dibawa lagi ke tepi sungai ini untuk diisi air.
“Engkau nampak murung kurang bergembira hari ini. Apa gerangan yang telah menggerogoti bathinmu?” Tanya satu di antaranya kepada ember yang lain yang berada di sampingnya.
“Oh nasib...nasib!! Sungguh suatu pekerjaan yang sia-sia tanpa arti. Setiap hari saya selalu mengulangi pekerjaan yang sama, yakni datang ke sungai ini untuk diisi dengan air hingga penuh. Namun setelah itu saya akan menjadi kosong lagi dan harus datang lagi ke tempat ini. Sungguh membosankan!!” Keluh ember yang ditanya.
“Oh...begitu!!” Sahut ember yang pertama. “Tapi aku tak pernah berpikir demikian. Sebaliknya, setiap kali setelah tiba di tepi sungai ini, saya akan selalu dengan penuh gembira berkata; Dalam kehampaan aku datang, namun dalam kelimpahan aku meninggalkan tempat ini. Sungguh suatu kebahagiaan yang luar biasa.¡¨
Kita mungkin perlu mengubah sudut pandangan, setiap hari kita melakukan pekerjaan yang sama,pastilah bosan dan jenuh menghampiri kita.dan pekerjaaan yang kita lakukan tak akan maksimal bahkan ogah2an.dan kita sudah menilai hasil yang kita dptkan pasti tidak akan memuaskan.buatlah diri anda selalu bahagia dan selalu rasa senang dalam melakukan pekerjaan kita adalah salah satu kunci untuk nenghilangkan rasa  bosan dan jenuh.ingat tidak ada yg sia-sia dengan apa yg kita lakukan karena semua saling berhubungan.

Minggu, 17 Juni 2012

Kedamaian bukan berarti berada di sebuah tempat dimana tidak ada kekacauan dan masalah.
Kedamaian berarti berada di tengah-tengah semua hal tersebut dan tetap tenang di dalam hati

-------------------------------------------------------------------

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup kita akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama kita,
karena kita dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan kita karena kita terlalu sibuk mengeluh.

Bahaya Merokok 2, 1024 x 768

Matikan Rokok Anda Sekarang, Sebelum Rokok Mematikan Anda dan Sekitar Anda.

Bahaya Merokok 1, 1024 x 768

Merokok menyebabkan kerusakan dan penyakit pada semua bagian tubuh.

Jumat, 15 Juni 2012

Persahabatan Semut hitam & merah

Musim kemarau hampir berakhir. Setiap hari warga semut hitam semakin sibuk mengumpulkan makanan untuk persediaan di musim penghujan nanti.
Demikian halnya di pagi yang cerah ini. Mereka keluar rumah hendak mencari makan. Wajah - wajah mereka tampak bersemangat. Simi dan Simo tak mau ketinggalan. Sejak matahari belum terbit, mereka berdua telah siap untuk bekerja. Warga semut hitam berpencar ke segala arah. Ada yang berpencar ke arah barat, timur, selatan maupun utara. Meskipun berpencar, tetapi jika ada salah satu diantara mereka menemukan tempat yang banyak makanannya, maka teman - teman yang lain segera diberi tahu. Setelah berkumpul, mereka pun mengangkat makanan itu sedikit demi sedikit secara beriringan. Pagi ini Simi dan Simo bersepakat mencari makan bersama - sama. Mereka bersepakat untuk mencari makan ke arah barat. Sambil bernyayi - nyanyi, keduanya berjalan dengan tegap. Langkah kaki mereka mantap seperti prajurit yang akan bertempur di medan laga. Sesekali mereka berhenti menyanyi untuk menyapa makhluk lain yang mereka jumpai di jalanan. Belum lagi sampai di tujuan, mendadak langkah mereka terhenti. Sayup - sayup Simi dan Simo mendengar rintihan seekor semut yang mengaduh kesakitan. Arah suara itu datang dari parit. "Jalan disini agak terjal, tentu semut yang malang ini terpeleset dan jatuh ke dalam parit," duga Simi dalam hati. Mereka berdua mendekat ke arah datangnya suara itu. Begitu sampai, mata Simi terbelalak sebab dugaannya benar. Ia menjumpai seekor semut merah yang tak berdaya tergeletak di dalam parit. Kaki, tangan dan kepalanya luka parah karena terbentur batu. Sungguh kasihan semut merah itu. Simi terharu melihatnya. Namun Simo tak demikian. Ia diam saja, bahkan wajahnya justru dipalingkan ke arah lain. "Simo jangan diam saja, ayo kita tolong," ajak Simi. "Tidak mau, aku tak sudi menolongnya," jawab Simo tegas. "Mengapa?" tanya Simi keheranan. "Dia kan bukan warga kita. Kamu ingat kan Simi? Sudah berkali - kali warga semut hitam yang memasuki wilayah semut merah diusir dan dimusuhi. Untuk apa kita susah - susah menolongnya," jawab Simo dengan wajah kesal. "Kalau kamu mau menolong, silahkan! Aku akan melanjutkan perjalanan ini," kata Simo sambil melangkah pergi. "Hai tunggu dulu!," pinta Simi. Simo terus saja pergi. Dia tak mau lagi mendengarkan kelanjutkan kata - kata Simi. Tekatnya sudah bulat untuk tidak menolong semut merah yang dianggapnya sebagai musuh. "Biar bagaimanapun juga semut ini harus kutolong. Meskipun ia bukan berasal dari semut hitam, tetapi dia juga seperti aku. Sama - sama makhluk ciptaan Tuhan. Aku harus membawanya ke rumah dan merawatnya. Jika tidak segera kutolong aku khawatir keadannya akan semakin memburuk," kata Simi dalam hati. Akhirnya semut merah yang luka parah itu digendong Simi dan dibawa ke rumah. Selama di perjalanan, walaupun berkata pelan - pelan dan terputus - putus, semut merah itu masih sempat memperkenalkan diri. Dia bernama Simer semut dan rumahnya di desa Mutbang. Selain itu diceritakannya juga mengenai kejadian yang baru saja menimpanya. Sudah enam hari Simer dirawat di rumah Simi semut. Setelah luka - lukanya sembuh, Simer minta diri untuk pulang ke rumahnya. Simi semut mengizinkan. Namun Simi tak sampai hati jika Simer pulang sendirian. Oleh karena itu, Simi pun mengantar Simer sampai di perbatasan. Sebelum berpisah, Simer berkali - kali mengucapkan terima kasih atas kebaikan Simi yang dengan rela mau berkorban untuk dirinya. Ketika memasuki wilayah warga semut merah, Simer melihat perkelahian yang tidak seimbang. "Hai hentikan!" kata Simer. Ternyata Simer menjumpai Simo yang sedang dikeroyok oleh empat ekor semut merah, teman - teman Simer. "Sabarlah dulu teman - teman," kata Simer pada keempat teman - temannya. "Mengapa bisa jadi begini?" katanya lagi. "Simer, kau lihat sendiri kan? berani - beraninya semut hitam ini menginjakkan kakinya di wilayah kita. Kalau tidak dihajar begini dia pasti akan masuk ke wilayah kita lagi. Selain itu, kalau kita berada di wilayahnya tentu kita akan dimusuhi," jawab salah satu semut membela diri. "Sudah.. Sudah," kata Simer. "Sebenarnya hal semacam ini tidak perlu lagi kita permasalahkan. Bukankah kita masih saudara? Sama - sama bangsa semut. Untuk apa kita terus - menerus bermusuhan? Tidakkah lebih baik kita bersahabat dan saling menolong? Oleh karena itu, ayo kita galang kerukunan diantara warga semut merah dan semut hitam," ajak Simer. "Tidak bisa!" kata salah satu semut merah. "Tunggu dulu," kata Simer dengan sabar. "Kita tidak bisa hidup tanpa bantuan dan pertolongan makhluk lain. Jadi, mau tidak mau kita wajib membina persahabatan dan menghindari adanya permusuhan," kata Simer tegas. "Aku akan bercerita. Beberapa hari yang lalu, aku terperosok di parit. Kaki, tangan dan kepalaku luka parah, sehingga aku tidak dapat bangun. Nah, kebetulan ada dua ekor semut hitam yang lewat disitu, yaitu Simi semut dan Simo semut. Aku ditolong dan dirawat di rumah Simi sampai luka - lukaku sembuh," cerita Simer kepada teman - temannya. "Nah, apakah kita harus saling bermusuhan lagi?" tanya Simer kepada mereka. "Tidak ada gunanya kita saling bermusuhan bukan?" tanyanya lagi. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak bermusuhan lagi. Mereka saling memaafkan kesalahan masing - masing. Demikian juga dengan Simo semut. Ia juga minta maaf kepada Simer atas kekasarannya beberapa hari yang lalu. Selanjutnya warga semut hitam dan semut merah hidup berdampingan dengan rukun dan damai.

Kamis, 14 Juni 2012

Apa Kelebihan Kamu ...??



Dalam sebuah kapal ada 4 ekor hewan yang menemani seorang nahkoda. Hewan itu ialah ayam, gajah, harimau dan tikus. Suatu hari keempat hewan itu berkumpul dan menceritakan kehebatan masing-masing.
Kata Ayam : "Aku selalu memberi telur kepada nahkoda kita. Berkat aku, dia dapat makan enak dan bergizi."
Gajahpun tak mau kalah "Aku kuat, aku selalu membantu nahkoda kita untuk mengangkat barang-barang berat."
Harimau menimbrung "Kalau aku terkenal sakti dan selalu dapat memenangkan setiap pertempuran, aku selalu melindungi nahkoda kita dari serangan bajak laut dan orang-orang jahat".
Hanya tikus yang terdiam. Ketiga hewan lainnya memandang dia katanya : "Tikus apa fungsimu di sini, hanya engkau yang tak mempunyai fungsi di sini.hahahaha". Mereka mengejek tikus itu.
Suatu hari kapal itu terantuk pada tonjolan karang dan bocor. Keempat hewan itu dan nahkodanya panik. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka lakukan karena lokasi kebocoran berada di tempat tersembunyi sehingga tidk bisa ditemukan. Tikus berpikir sejenak kemudian berkata : "Teman-teman mungkin inilah saatnya aku dapat berguna bagi kalian." Lalu tikus itu mulai bergerak. Dengan tubuh mungil dan lonjong itu dia begitu mudah masuk ke sela-sela kayu untuk menemukan sumber kebocoran itu. Akhirnya kapal itu dapat diselamatkan.
Nahkoda itu berkata : "Untung ada kamu tikus, kalau tidak kita bisa celaka". Ketiga temannya pun tertunduk malu karena mereka telah mengejek tikus itu.

Demikianlah TUHAN memberikan kepada kita semua talenta masing masing. Tidak ada orang bodoh yang ada hanya orang yang tidak sadar akan bakat yang diberikan TUHAN kepada kita. Janganlah mengejek dan saling merendahkan tetapi hendaklah saling melengkapi untuk hidup yang lebih baik.

Rabu, 13 Juni 2012

Kisah 4 Lilin



Ada 4 lilin yang sedang menyala. Sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.
Lilin yang pertama berkata: “Aku adalah Damai."
"Namun manusia tak mampu menjagaku. Maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin pertama padam.
Lilin yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku. Tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran lilin ketiga bicara: ”Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala. Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci. Bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala. Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu lilin keempat berkata:
"Jangan takut. Janganlah menangis. Selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya."
”Akulah HARAPAN.“
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN. Jangan sampai kita kehilangan HARAPAN.

Minggu, 10 Juni 2012

Cara Berpikir Gajah



Ketika teman saya sedang melewati gajah, ia tiba-tiba berhenti, bingung dengan makhluk-makhluk besar yang diikat oleh tali kecil pada kaki depan mereka. Gajah tidak rantai, juga tidak dikandang. Sudah jelas gajah bisa melepaskan diri kapan saja dari tali yang mengikat gajah tersebut. Teman saya bertanya ke pelatih yang ada didekatnya, kenapa hewan-hewan besar (gajah) itu tidak berusaha melarikan diri, padahal itu adalah sangat mudah untuk gajah lakukan.
“Yah,” kata pelatih gajah, “ketika gajah-gajah itu masih sangat muda dan jauh lebih kecil, kami mengikat gajah tersebut menggunakan tali ukuran kecil yang pada usia saat itu cukup untuk menahan gajah tersebut. Ketika gajah-gajah itu tumbuh, gajah-gajah itu dikondisikan untuk percaya bahwa gajahtersebut tidak dapat melepaskan diri dari ikatan itu. Gajah itu percaya bahwa tali yang kecil itu masih bisa menahan mereka, sehingga gajah-gajah tersebut tidak pernah mencoba membebaskan diri.
Teman saya kagum. Gajah ini bisa setiap saat melepaskan diri dari ikatan mereka tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak bisa, mereka berdiam diri. Gajah tersebut terjebak dengan apa yang mereka percayai.
Seperti gajah, berapa banyak dari kita menjalani hidup tergantung pada keyakinan bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu, hanya karena kita gagal sekali sebelumnya? Kita telah tumbuh lebih dewasa, paling tidak telah bertambah usia dan pengalaman hidup. Jadi mari kita coba ulangi apa yang kita takut karenanya, bukan untuk gagal lagi, tetapi untuk menutup ketakutan dengan keberhasilan.
Gagal meyakinkan diri untuk mencoba lagi, adalah kegagalan yang sesungguhnya.maka kalau kita menghadapi sebuah kegagalan jangan mudah menyerah ataupun rasa trauma.

Pesan Bagi Para Hakim


Bapaknya Abu Nawas adalah Penghulu Kerajaan Baghdad bernama Maulana. Pada suatu hari bapaknya Abu Nawas yang sudah tua itu sakit parah dan akhirnya meninggal dunia.
Abu Nawas dipanggil ke istana. la diperintah Sultan (Raja) untuk mengubur jenazah bapaknya itu sebagaimana adat Syeikh Maulana. Apa yang dilakukan Abu Nawas hampir tiada bedanya dengan Kadi Maulana baik mengenai tata acara memandikan jenazah hingga mengkafani, menyalati dan mendo'akannya.
Maka Sultan bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi Kadi atau penghulu menggantikan kedudukan bapaknya.
Namun... demi mendengar rencana sang Sult an. Tiba-tiba saja Abu Nawas yang cerdas itu tiba-tiba nampak berubah menjadi gila.
Usai upacara pemakaman bapaknya. Abu Nawas mengambil batang sepotong batang pisang dan diperlakukannya seperti kuda, ia menunggang kuda dari batang pisang itu sambil berlari-lari dari kuburan bapaknya menuju rumahnya. Orang yang melihat menj di terheran-heran dibuatnya.
Pada hari yang lain ia mengajak anak-anak kecil dalam jumlah yang cukup banyak untuk pergi ke makam bapaknya. Dan di atas makam bapaknya itu ia mengajak anak-anak bermain rebana dan bersuka cita. Kini semua orang semakin heran atas kelakuan Abu Nawas itu, mereka menganggap Abu Nawas sudah menjadi gila karena ditinggal mati oleh bapaknya.
Pada suatu hari ada beberapa orang utusan dari Sultan Harun Al Rasyid datang menemui Abu Nawas.

"Hai Abu Nawas kau dipanggil Sultan untuk menghadap ke istana." kata wazir utusan Sultan.

"Buat apa sultan memanggilku, aku tidak ada keperluan dengannya." jawab Abu Nawas dengan entengnya seperti tanpa beban.

"Hai Abu Nawas kau tidak boleh berkata seperti itu kepada rajamu!"

"Hai wazir! kau jangan banyak cakap. Cepat ambil ini kudaku ini dan mandikan di sungai supaya bersih dan segar!" kata Abu Nawas sambil menyodorkan sebatang pohon pisang yang dijadikan kuda-kudaan.

Si wazir hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Abu Nawas.
"Abu Nawas kau mau apa tidak menghadap Sultan?" kata wazir.

"Katakan kepada rajamu, aku sudah tahu maka aku tidak mau." kata Abu
Nawas.

"Apa maksudnya Abu Nawas?" tanya wazir dengan rasa penasaran.

"Sudah pergi sana, bilang saja begitu kepada rajamu." sergah Abu Nawas
sembari menyaruk debu dan dilempar ke arah si wazir dan teman-temannya.

Si wazir segera menyingkir dari halaman rumah Abu Nawas. Mereka laporkan keadaan Abu Nawas yang seperti tak waras itu kepada Sultan Harun Al Rasyid. Dengan geram Sultan berkata,

"Kalian bodoh semua, hanya menghadapkan Abu Nawas kemari saja tak becus! Ayo pergi sana ke rumah Abu Nawas bawa dia kemari dengan suka rela ataupun terpaksa."

Si wazir segera mengajak beberapa prajurit istana. Dan dengan paksa Abu
Nawas di hadirkan di hadapan raja. Namun lagi-lagi di depan raja Abu Nawas berlagak pilon bahkan tingkahnya ugal-ugalan tak selayaknya berada di hadapan seorang raja.

"Abu Nawas bersikaplah sopan! " tegur Baginda.

"Ya Baginda, tahukah Anda....?"

"Apa Abu Nawas...?"

"Baginda... terasi itu asalnya dari udang!"

"Kurang Ajar kau menghinaku Nawas!"

"Tidak Baginda! Siapa bilang udang berasal dari terasi?"

Baginda merasa dilecehkan, ia naik pitam dan segera memberi perintah kepada
para pengawalnya. "Hajar dia ! Pukuli dia sebanyak dua puluh lima kali"
Abu Nawas yang kurus kering itu akhirnya lemas tak berdaya dipukuli tentara yang bertubuh kekar. Usai dipukuli Abu Nawas disuruh keluar istana. Ketika sampai di pintu gerbang kota, ia dicegat oleh penjaga.

"Hai Abu Nawas! Tempo hari ketika kau hendak masuk ke kota ini kita telah mengadakan perjanjian. Masak kau lupa pada janjimu itu? Jika engkau diberi hadiah oleh Baginda maka engkau berkata: Aku bagi dua; engkau satu bagian, aku satu bagian. Nah, sekarang mana bagianku itu?"

"Hai penjaga pintu gerbang, apakah kau benar-benar menginginkan hadiah
Baginda yang diberikan kepada tadi?"

"lya, tentu itu kan sudah merupakan perjanjian kita?"

"Baik, aku berikan semuanya, bukan hanya satu bagian!"

"Wah, ternyata kau baik hati Abu Nawas. Memang harusnya begitu, kau kan
sudah sering menerima hadiah dari Baginda."

Tanpa banyak cakap lagi Abu Nawas mengambil sebatang kayu yang agak besar lalu orang itu dipukulinya sebanyak dua puluh lima kali.Tentu saja orang itu menjerit -jerit kesakitan dan menganggap Abu Nawas telah menj adi gila.
Setelah penunggu gerbang kota itu klenger Abu Nawas meninggalkannya begitu saja, ia terus melangkah pulang ke rumahnya. Sementara itu si penjaga pintu gerbang mengadukan nasibnya kepada Sultan Harun Al Rasyid.

"Ya, Tuanku Syah Alam, ampun beribu ampun. Hamba datang kemari mengadukan Abu Nawas yang telah memukul hamba sebanyak dua puluh lima kali tanpa suatu kesalahan. Hamba mohom keadilan dari Tuanku Baginda."

Baginda segera memerintahkan pengawal untuk memanggil Abu Nawas. Setelah Abu Nawas berada di hadapan Baginda ia ditanya.

"Hai Abu Nawas! Benarkah kau telah memukuli penunggu pintu gerbang kota ini sebanyak dua puluh lima kali pukulan?"

Berkata Abu Nawas, "Ampun Tuanku, hamba melakukannya karena sudah
sepatutnya dia menerima pukulan itu."

"Apa maksudmu? Coba kau jelaskan sebab musababnya kau memukuli orang
itu?" tanya Baginda.

"Tuanku," kata Abu Nawas. "Hamba dan penunggu pintu gerbang ini telah mengadakan perjanjian bahwa jika hamba diberi hadiah oleh Baginda maka hadiah tersebut akan dibagi dua. Satu bagian unt uknya satu bagian untuk saya. Nah pagi tadi hamba menerima hadiah dua puluh lima kali pukulan, maka saya berikan pula hadiah dua puluh lima kali pukulan kepadanya."

"Hai penunggu pintu gerbang, benarkah kau telah mengadakan perjanjian seperti itu dengan Abu Nawas?" tanya Baginda.

"Benar Tuanku," jawab penunggu pintu gerbang. "Tapi hamba tiada mengira jika Baginda memberikan hadiah pukulan."

"Hahahahaha!! Dasar tukang peras, sekarang kena batunya kau!"sahut Baginda. "Abu Nawas tiada bersalah, bahkan sekarang aku tahu bahwa penjaga pintu gerbang kota Baghdad adalah orang yang suka narget, suka memeras orang! Kalau kau tidak merubah kelakuan burukmu itu sungguh aku akan memecat dan menghukum kamu! "

"Ampun Tuanku," sahut penjaga pintu gerbang dengan gemetar.

Abu Nawas berkata, "Tuanku, hamba sudah lelah, sudah mau istirahat, tiba-tiba diwajibkan hadir di tempat ini, padahal hamba tiada bersalah. Hamba mohon ganti rugi. Sebab jatah waktu istirahat hamba sudah hilang karena panggilan Tuanku. Padahal besok hamba harus mencari nafkah untuk keluarga hamba."

Sejenak Baginda melengak, terkejut atas protes Abu Nawas, namun tiba-tiba
tertawa terbahak-bahak, "Hahahaha...jangan kuat ir Abu Nawas."

Baginda kemudian memerintahkan Bendahara kerajaan memberikan sekantong uang perak kepada Abu Nawas. Abu Nawas pun pulang dengan hati gembira.
Tetapi sesampai di rumahnya Abu Nawas masih bersikap aneh dan bahkan
semakin nyentrik seperti orang gila sungguhan. Pada suatu hari Raja Harun Al Rasyid mengadakan rapat dengan para menterinya.

"Apa pendapat kalian mengenai Abu Nawas yang hendak kuangkat sebagai
kadi?"

Wazir atau perdana meneteri berkata, "Melihat keadaan Abu Nawas yang semakin parah otaknya maka sebaiknya Tuanku mengangkat orang lain saja menjadi kadi."

Menteri-menteri yang lain juga mengutarakan pendapat yang sama. "Tuanku, Abu Nawas telah menjadi gila karena itu dia tak layak menjadi kadi."

"Baiklah, kita tunggu dulu sampai dua puluh satu hari, karena bapaknya baru saja mati. Jika tidak sembuh-sembuh juga bolehlah kita mencari kadi yang lain saja."

Set elah lewat satu bulan Abu Nawas masih dianggap gila, maka Sultan Harun Al Rasyid mengangkat orang lain menjadi kadi atau penghulu kerajaan Baghdad.
Konon dalam seuatu pertemuan besar ada seseorang bernama Polan yang sejak lama berambisi menjadi Kadi, la mempengaruhi orang-orang di sekitar Baginda untuk menyetujui jika ia diangkat menjadi Kadi. Maka tatkala ia mengajukan dirinya menjadi Kadi kepada Baginda maka dengan mudah Baginda menyetujuinya. Begitu mendengar Polan diangkat menjadi kadi maka Abu Nawas mengucapkan syukur kepada Tuhan.

"Alhamdulillah...aku telah terlepas dari balak yang mengerikan. Tapi...sayang sekali kenapa harus Polan yang menjadi Kadi, kenapa tidak yang lain saja."


Mengapa Abu Nawas bersikap seperti orang gila? Ceritanya begini:


Pada suatu hari ketika ayahnya sakit parah dan hendak meninggal dunia ia panggil Abu Nawas untuk menghadap. Abu Nawas pun datang mendapati bapaknya yang sudah lemah lunglai.
Berkata bapaknya, "Hai anakku, aku sudah hampir mati. Sekarang ciumlah
telinga kanan dan telinga kiriku."

Abu Nawas segera menuruti permintaan terakhir bapaknya. la cium telinga kanan bapaknya, ternyata berbau harum, sedangkan yang sebelah kiri berbau sangat busuk.

"Bagamaina anakku? Sudah kau cium?"

"Benar Bapak!"

"Ceritakankan dengan sejujurnya, baunya kedua telingaku ini."

"Aduh Pak, sungguh mengherankan, telinga Bapak yang sebelah kanan berbau
harum sekali. Tapi... yang sebelah kiri kok baunya amat busuk?"

"Hai anakku Abu Nawas, tahukah apa sebabnya bisa terjadi begini?"

"Wahai bapakku, cobalah cerit akan kepada anakmu ini."

Berkata Syeikh Maulana "Pada suatu hari datang dua orang mengadukan masalahnya kepadaku. Yang seorang aku dengarkan keluhannya. Tapi yang seorang lagi karena aku tak suaka maka tak kudengar pengaduannya. Inilah resiko menj adi Kadi (Penghulu). Jia kelak kau suka menj adi Kadi maka kau akan mengalami hai yang sama, namun jika kau tidak suka menjadi Kadi maka buat lah alasan yang masuk akal agar kau tidak dipilih sebagai Kadi oleh Sultan Harun Al Rasyid. Tapi tak bisa tidak Sultan Harun Al Rasyid pastilah tetap memilihmu sebagai Kadi."

Nan, itulah sebabnya Abu Nawas pura-pura menjadi gila. Hanya untuk menghindarkan diri agar tidak diangkat menjadi kadi, seorang kadi atau penghulu pada masa itu kedudukannya seperti hakim yang memutus suatu perkara.

Walaupun Abu Nawas tidak menjadi Kadi namun dia sering diajak konsultasi oleh sang Raja untuk memutus suatu perkara. Bahkan ia kerap kali dipaksa datang ke istana hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan Baginda Raja yang aneh-aneh dan tidak masuk akal.

Penyebab Sebuah Kegagalan

1. Tidak ada tujuan / goal yang tepat, tidak tahu apa yang diinginkan dan diprioritaskan dalam hidup 


2. Tidak pernah mencatat tujuan : hanya di kepala, tidak dikertas atau Goal Visualization atau sarana apapun.

3. Tidak ingin dan Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya, selalu mencari alasan atau excuse atas kegagalannya.

4. Tidak ada tindakan yang efektif : Banyak rencana, tidak ada tindakan alias No Action Talk Only (NATO).

5. Membatasi diri sendiri : menganggap diri tak berhak sukses ( Menyerah Sebelum Berjuang ) , karena terlalu tua, tak punya modal, bawaan keluarga, tempat tak memungkinkan, tak punya kepandaian , .

6. Malas : tidak mau kerja keras, selalu berusaha menggunakan cara paling mudah, cepat dan hemat waktu, tapi ingin mendapatkan uang paling banyak.

7. Berteman dengan teman-teman yang salah, hidup di lingkungan orang-orang yang gagal.
8. Tidak bisa mengatur waktu alias Salah Prioritas.

9. Salah memakai strategi atau cara bertindak, tidak mempunyai strategi yang paling baik. Berusaha keras, hasil nol.

10. Kurang pengembangan diri: jarang membaca, tidak mau menambah pengetahuan , jarang mendengar ( bila berinteraksi hanya mau mendominasi ) , tak pernah mengumpulkan informasi baru dan lain-lain.

11. Tidak ada kesungguhan atau komitmen untuk sukses: mudah putus asa atau menyerah pada waktu menghadapi rintangan.

12. Kurang menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar.

13. Kurangnya hubungan antar manusia yang baik.

14. Sombong dan menganggap Diri Sendiri Paling Hebat dan Berhenti Belajar.

15. TIDAK BERANI BERMIMPI ; Teruslah berharap dan bermimpi utk bisa menggapai
lebih dari apa yang anda punya sa’at ini karena Impian itu adalah awal dari Pencapaian Lanjutan untuk menuai Keberhasilan.

Ingin Sukses ???
Hindari 15 penyebab kegagalan tadi ! terutama nomor Terakhir ! ! !
HOPE is a Waking Dream … with LOVE and PERSISTENCE everything is POSSIBLE.

Sabtu, 09 Juni 2012

Think Win-Win


Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai.
Tiba tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci itu berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Rubah jantan merasa tertantang, "Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya dengan nikmat.
Sang Kelinci kembali bersantai, sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai.
Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang serigala merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan melahapnya dengan nikmat.
Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan merebahkan diri diatas pasir.
Tiba tiba datang se-ekor beruang besar yang hendak memangsanya. Lalu kelinci berkata :" Kalau memang kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang."
Sang Beruang merasa tertantang, " Dimanapun jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku ?"
Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci. Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan nikmat.
Pohon kelapa melambai lambai. Lembayung senja sudah tiba, habis sudah waktu bersantai.
Sang Kelinci melongok kedalam lubang kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita teruskan !!"
Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya. Sambil menguap Harimau berkata "Kerjasama kita sukses hari ini, kita makan kenyang dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

(Winner selalu berpikir mengenai kerja sama, sementara Looser selalu berpikir bagaimana menjadi tokoh yang paling berjaya.)
sumber:http://www.nomor1.com

Lompatan Belalang



Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak.
Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dariusiaataupun bentuk tubuh?”
Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”.
Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Pesan moral:
Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan belalang. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun, perkataan teman, atau pendapat tetangga, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.
Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan kepada kita tanpa pernah berpikir benarkah anda separah itu? Bahkan lebih buruk lagi, kita lebih memilih untuk mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tidakkah anda pernah mempertanyakan kepada hati nurani bahwa anda bisa “melompat lebih tinggi dan lebih jauh” kalau anda mau menyingkirkan “kotak” itu?
Tidakkah anda ingin membebaskan diri agar anda bisa mencapai sesuatu yang selama ini anda anggap diluar batas kemampuan anda?
Beruntung sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami.
Karena itu teman, teruslah berusaha mencapai apapun yang anda ingin capai. Sakit memang, lelah memang, tetapi bila anda sudah sampai kepuncak, semua pengorbanan itu pasti terbayar.
Kehidupan anda akan lebih baik kalau hidup dengan cara hidup pilihan anda. Bukan cara hidup yang seperti mereka pilihkan untuk anda…