Minggu, 12 Februari 2012

Sebuah Lubang di Pagar

    
       Suatu ketika ada anak seorang yang pemarah. Ayahnya memberikan kepadanya sekantong paku dan mengatakan kepada anak itu bahwa jika dia tidak dapat mengendalikan kemarahannya,maka ia harus memakukan sebuah paku di bagian belakang pagar. Pada hari pertama,anak itu telah memukulkan 28 paku di pagar. Dalam beberapa minggu kemudian,karena ia telah semakin mampu mengendalikan kemarahannya,maka jumlah paku yang dipakukan itu menjadi berkurang setiaphari. Ia merasakan bahwa ternyata lebih mudah mengendalikan kemarahan daripada memakukan paku di pagar.
      Akhirnya datanglah suatu hari ketika anak itu sudah tidak marah sama sekali. Ia berkata kepada ayahnya mengenai keadannya itu dan ayahnya menyarankan agar anak itu mencabut sebuah paku setiap hari karena dia telah mampu mengendalikan kemarahannya. Haripun berlalu dan anak itu akhirnya mengatakan kepada ayahnya bahwa semua paku telah dicabut. Kemudian ayahnya menggandeng anaknya dan menuntun anaknya ke pagar. Katanya," kau telah melakukannya dengan baik anakku,tapi lihatlah lubang di pagar ini."
      Pagar ini tidak akan menjadi sama. Ketika mengucapkan kata2 dengan melampiaskan dengan kemaranmu,ucapanmu akan meninggalkan sebuah bekas sebagaimana bekas paku ini. Dan hal itu seperti menusukan pisau di tubuhnya kemudian mencabutnya. Bekas luka itu masih tetap ada. Sebuah luka karena ucapan sama buruknya dengan luka yang berupa fisik.
      Teman2 kita dan orang2 yang kita cintai sesungguhnya merupakan permata yang sangat berharga. Mereka membuat kita tersenyum dan mendorong kita agar berhasil. Mereka mau mendengarkan kita,mereka mengucapkan pujian untuk kita,dan mereka selalu membuka hatinya untuk kita. Maka siramilah hubungan itu dengan kebaikan,agar hubungan itu semakin tumbuh dengan baik. Maka berhati-hatilah dengan ucapan kita,agar persahabatan itu tidak retak karena ucapan kita.
(goldenbooks )