Rabu, 23 Maret 2011

Faktor Kesuksesan Bangsa Jepang

Seperti yang kita ketahui saat ini jika jepang merupakan salah satu negara kuat di dunia. Di lihat dari segi manapun jepang adalah negara panutan dalam mencapai kesuksesan sebuah tujuan bernegara. Apa yang sebenarnya melatar belakangi semua itu? Jika dikaji lebih dalam, setidaknya ada beberapa sikap masyarakat jepang yang membuat negaranya begitu perkasa seperti saat ini, antar lain ;

Kerja keras.

Masyarakat di jepang memiliki etos kerja yang tinggi. Berangkat kantor pagi dan pulangnya malam adalah sebuah hal yang biasa di sana. Statistik menyebutkan jika jam kerja di jepang adalah paling tinggi sebesar 2450 jam/tahun dibandingkan negara maju lainnya. Seorang pekerja di jepang dapat menjalankan perkerjaan yang membutuhkan tenaga 5-6 orang. Wao..

Pulang kerja terlalu awal juga menjadi sebuah hal yang tabu dan memalukan di jepang. Karena pekerja yang demikian layaknya seorang pekerja yang sudah tidak lagi dibutuhkan oleh perusahaan. Sebagaian besar sumber menyatakan jika karena kerja keras inilah sebenarnya faktor utama kebangkitan dan keberhasilan bangsa jepang sekarang ini. Jadi, tidak mengherankan jika sampai sekarang di jepang ada fenomena karoshi (mati karena kerja keras).

Malu.

Budaya malu sudah ada sejak zaman samurai yang ditandai dengan harakiri karena kalah dalam pertempuran. Di zaman sekarang, budaya malu lebih ditunjukan dalam bentuk upaya mengundurkan diri bagi seorang pemimpin yang merasa dirinya gagal dalam menjalankan amanat tugas atau pekerjaan yang diembannya.

Mandiri.

Bangsa jepang adalah bangsa yang tidak cengeng. Buktinya adalah meski mereka bukan negara yang kaya akan SDA, tapi mereka selalu berupaya keras agar bisa hidup makmur dengan keterbatasan tersebut. Sikap mandiri ini sudah ditanamkan rakyat jepang sejak saat masih dalam masa kanak-kanak.

Pantang menyerah.

Bangsa jepang tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah. Misalnya saat bencana melanda, mereka tidak pernah mengeluh meratapi nasibnya. Mereka tetap tegar dan bangkit dari kegagalan dan keterpurukan untuk kembali ke jalur kemenangan. Bahkan, teori yang merumuskan proses pembelajaran dari kegagalan ini berasal dari jepang bernama shippaigaku (ilmu kegagalan).

Gemar membaca.

Orang jepang sangat suka membaca. Hal ini bisa terlihat dari fenomena unik di mana setiap penumpang kereta di jepang apakah dia sedang duduk atau berdiri sekalipun pasti sebagian besar akan digunakan waktunya untuk membaca. Banyak buku-buku luar negeri yang langsung diterjemahkan ke bahasa jepang begitu buku tersebut di luncurkan. Tingginya minat baca masyarakat jepang ini juga didukung oleh upaya pemerintah yang berperan aktif dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat khususnya pelajar seperti dengan membuat desain tulisan di buku dengan semenarik mungkin agar nyaman dan menarik untuk dibaca.

Inovasi.

Bangsa jepang bukan lah bangsa penemu, tetapi mereka salalu berinovasi dalam membuat sebuah prosuk agar laku di pasaran. Kita lihat saja contohnya mobil. Meski penemu dan pemegang patennya bukan dari jepang, tapi bagaimana kenyataan pasar otomotif dunia saat ini? Hampir semua kelas penjualan pasar otomotif dikuasai oleh jepang bukan? Jepang dengan inovasinya mampu menciptakan sebuah mobil yang murah dan berkualitas tinggi hingga banyak diminati oleh konsumen.

Loyalitas.

Loyalitas atau kesetiaan ini banyak ditunjukan oleh pekerja di jepang. Banyak pekerja yang hanya berada di satu atau dua perusahaan saja sampai dirinya pensiun karena loyalitasnya. Hal ini tentu berdampak positif terhadap proses stabilitas dan fokus perkembangan dari perusahaan tersebut untuk bergerak maju.

Bergaya hidup hemat.

Meski perndapatan perkapita masyarakat jepang tinggi, tapi itu tidak membuat gaya hidup mereka menjadi glamor dan justru sebaliknya. Warga jepang lebih memilih menggunakan kendaraan umum untuk bepergian daripada kendaraan pribadi. Bukan karena alasan tidak bisa membeli, tapi dengan menggunakan kendaraan umum dinilai lebih hemat biaya daripada bepergian dengan kendaraan pribadi. Hidup hemat sangat bermanfaat, masih ingat bukan dengan pepatah hemat pangkal kaya?

Menjaga tradisi.

Jepang tidak pernah lupa dengan jati dirinya. Meski maju, tetapi jepang tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi sampai sekarang ini. Contohnya adalah budaya minta maaf dan seorang istri yang telah bersuami biasanya tidak berkarir di luar rumah. Kesopanan dan kerendahan hati masyarakat jepang tetap terpelihara di tengah keberhasilan yang telah didapatkan.

Kerja sama kelompok.

Ada anekdot yang menyatakan, jika seorang profesor jepang tidak bisa mengalahkan profesor amerika. Tapi, 10 orang profesor amerika tidak bisa mengalahkan 10 orang profesor jepang yang bekerja sama. Dari anekdot ini sudah dapat kita ambil kesimpulan jika perkembangan jepang menjadi negara maju tidak luput dari usaha gotong royong seluruh komponen bangsanya. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh! Begitulah pepatah indonesia mengatakannya.

Pendidikan kerja sama ini juga sudah diaplikasikan sejak masa pendidikan di sekolah. Warga jepang tidak pernah menunjukan individualistisnya, tapi lebih menekankan pada pentingnya kolektifitas kerja. Saat mengerjakan sebuah tugas, biasanya murid sekolah lebih diarahkan untuk menyelesaikan secara berkelompok daripada secara individu.

Sungguh hal-hal di atas adalah sebuah pembelajaran yang wajib untuk kita teladani. Bangsa yang besar seperti bangsa jepang selalu menjalankan hal tersebut dengan kedisiplinan dan penuh konsistensi. Semoga contoh perbuatan baik tersebut dapat menginspirasi kita semua sebagai bangsa indonesia untuk dapat bergerak maju menuju keberhasilan di masa mendatang. Amin..
Semangat kawan-kawan!